Monolog: Kisah Putih Ombak Pilu Bukan Halangan Yang Tak Dianggap Tawamu Yang Terakhir

Sabtu, 31 Desember 2011

Bidadari Kancut Bagian 5

Sub Judul: Kejutan dari
Andi!
Ayo, baca cerita sebelumnya:

Hari yang baru. Hari ini aku bersemangat untuk bertemu Bidadari Kancutku yang begitu sehat. Begitu bahenol. Hingga ingin kusenggol. Tidak pakai pinggul karena aku tak berani. Tapi menggunakan hati. Eeeaaa, hatiku tertawa geli.

"Ricky, aku ada berita baik!" Andi melompat kebahuku dilorong sekolah. Berat sekali.

"Tentang Aura?" tanyaku kegirangan hampir terpeleset.

"Bukan. Tentang aku dong, kau pikirannya Aura melulu sih." ia tersenyum.

Aku bingung. Tak biasanya Andi seperti ini. Ia seperti orang kesurupan dengan mata terbelalak dan air liur menetes. Bukan. Ia lebih seperti anjing yang menunggu perintah tuannya. Atau mungkin seperti gorilla yang menggaruk-garuk pantatnya. Aku jadi terbawa suasana menggaruk pantat dan diam terpana. Gila. Pikiranku melanglang buana.

"Apaan sih? Seneng amat kau." aku membetulkan tas.

"Aku jatuh cinta dan ia sudah menjadi milikku." ia mengedipkan matanya.

Ambigu. Aku bukan orang yang lugu. Jangan sampai orang itu. Aura. Jangan sampai. Aku bukan orang yang lalai. Tak mungkin orang segendut Andi bisa mendapatkan hati Aura. Tak mungkin. Aku tak ingin hatiku miskin.

"Tau Tirani kan? Ituloh yang agak-agak gendut manis. Kami udah jadian. Hehehe" jelasnya gamblang.

Tirani. Wanita itu. Betul, disaat aku dan Aura bersama-sama ke kantin namun tak jadi. Tidak mungkin. Aku sudah didahului oleh sahabatku. Ya Tuhan, apa salahku hingga ini bisa terjadi. Dua sejoli bersatu, ini sebuah tragedi. Aku merasa berdosa tak bisa mencarikan jodoh untuk Andi.

Jumat, 30 Desember 2011

Bidadari Kancut Bagian 4

Sub Judul: Semakin
dekat!
Ayo, baca cerita sebelumnya:
[Bidadari Kancut Bag. 3]

Menuju kantin. Tetap saja Aura ku pelototin. Mataku terbelalak, hatiku bergejolak. Tapi, tunggu dulu. Andi tampaknya melakukan sesuatu dikejauhan. Di pojok kantin. Disana. Ia bersama seorang wanita. Segendut Andi. Mereka terlihat seperti dua bola raksasa yang memantul bersama. Sungguh mengundang tawa.

"Aura, kita kemana? Kantinnya disana." tanyaku sambil menunjuk kantin.

"Oh, iya. Kita ke taman sekolah aja." ia memalingkan muka lalu tersenyum.

Belum sampai kesana, aku merana. Lonceng berbunyi dan sekolah mulai sunyi. Pelajar belajar, guru mengajar. Kami kembali ke kelas masing-masing. Berlari. Ya, kami berlari bersama. Tapi tetap saja aku berada dibelakangnya. Aku merasa benar-benar babu untuknya. Hingga tengah hari pun sekolah benar-benar membosankan. Ditengah-tengah pelajaran, masih saja Aura kupikirkan. Bersama warna kancutnya. Aaah.. tidak mungkin merah. Konsentrasiku terbelah dan menunduk melihat sebelah. Andi duduk sebangku denganku.

"Eh, aku mau ke WC nih." aku berbisik.

Andi tiba-tiba berdiri lalu berteriak."Kenapa bilang ke aku, yaudah sana pergi, jangan bilang kau mau sama-sama ke WC denganku." serunya.

Semua tertawa terbahak-bahak, hatiku merasa sesak. Andi!, bentakku dalam hati. Aku berdiri dan langsung lari. Namun seketika berhenti, didepan kelas pujaan hati. Sang Bidadari. Sedikit mengintip namun tak kelihatan, ah persetan. Aku melompat dan aku dapat melihat. Begitu cepat. Kenikmatan itu belum saja sempat. Huh.. Sudahlah. Aku mulai pasrah.

Kamis, 29 Desember 2011

Bidadari Kancut Bagian 3


Sub Judul:
Aku pemberani!
Ayo, baca cerita sebelumnya:
[Bidadari Kancut Bag. 1]
[Bidadari Kancut Bag. 2]

Kaki kulangkah, aku tak serakah. Aku tak ingin melakukan kesalahan, ku berjalan perlahan. Sambil membetulkan kerah baju, aku maju. Perasaan terasa bercampur aduk, bagaikan ayam dimimpiku tadi mematuk. Aku bisa, ya aku memang perkasa.

"Aura..." sapaku sedikit malu.

"Iya, ada apa yah?" tanyanya tersenyum lembut.

"Hem.. anu.. hem.. anu.." aku begitu gugup.

"Anu? anu siapa?" ia terlihat begitu polos.

Mati aku, seruku dalam hati. Tak mungkin aku bilang anuku, apalagi anunya. Jangankan kaki, tanganpun bisa menjadi hadiah darinya. Aku takut. Aku bingung harus menjawab. Aku sungguh tak siap. Bantuan. Ya aku perlu. Tidaaak, kepalaku serasa diketuk palu. Walau ini kenginanku, tapi aku merasa kaku.

"Kamu kenal aku gak?" tanyaku sambil menggaruk-garuk kepala.

"Siapa yah? Aku gak kenal tuh. Hehe." ia menjawab sambil membetulkan poninya.

Rabu, 28 Desember 2011

Bidadari Kancut Bagian 2

Sub Judul: Ternyata
itu namamu
Ayo, baca cerita sebelumnya:

Makhluk apakah itu. Oh Tidak. Ayam sedang mendengkur. Menjijikan, ayam itu juga memakai kancut warna merah. Aku menahan amarah. Aku mengejarnya, tak dapat. Aku harus membunuhnya, aku melompat. Sulit. Aku merasa kakiku ada yang menahan. Apa? Itu tangan bidadari bersayap dibalik kancut. Hatiku lucut. Lagi.

"Huaaaaah?!" aku berteriak histeris.

Aku terperanjat dari ranjang, seketika semuanya terang. Silau cahaya menembus hingga ke hatiku. Tetapi mantul lagi. Tentu saja, hatiku tidak akan terbiaskan hanya dengan sinar mentari, karena hatiku sudah menjadi milikmu bidadari. Sorot matamu lah yang bisa membiaskan hati ini, hati yang rentan, yang suci tak seperti setan. Tapi dimanakah engkau wahai gerangan?

Aku mengernyitkan dahi, lalu menepuknya. Bukankah ia memegang kakiku barusan? Tapi begitu saja hilang, oh sungguh malang. Aku pasrah dan tak mampu marah. kekuatanku sudah habis melawan ayam mendengkur tadi. Lebih baik aku mandi lagi. Sudah pagi dan aku belum gosok gigi.

"Yiihaa... Yuuhuu.." aku berdangdut didekat jamban.

"Hey, Ricky, cepetan, ibu udah nggak tahan lagi nih mau BAB." ibuku terdengar begitu memelas.

"Iya, bu. Bentar lagi." aku mempercepat gerakan.

Cepat. Ya, pikirku ibu sudah tak lagi sehat. Sudah diujung dan aku takut ibu menjadi murung. Akhirnya pintu terbuka dan kuseret, naas aku terpeleset.

"Hahaha... ada monyet kepeleset!" ibuku terlihat gembira dan langsung menutup pintu WC.

Aku tersenyum dan beranjak pergi. Mengenakan seragam dan menuju sekolah. Menuju bidadari dengan bau harum walau tak kucium. Kali ini aku ingin memberanikan diri, mengajaknya bersama agar ia tak lagi sendiri. Aku ingin menjadi sayapnya. Tak peduli dimana letaknya.

Selasa, 27 Desember 2011

Bidadari Kancut Bagian 1

Bidadari itu...
Ia melihatku. Ya, ia yang disana. Aku tersapu malu oleh kecantikannya. Sungguh mempesona hingga pipiku merah merona. Aku mendesah dan bibirku mulai basah. Tidaaak. Air liurku menetes hingga membuatku stres. Siapakah gerangan wanita seksi ini. Yang membuatku hingga begini.

"Ia pasti seorang bidadari, tapi mana sayapnya?" aku bergumam sendiri.

"Sayapnya pasti dibalik kancutnya, ky!" terdengar suara disampingku.

Aku tertawa terpingkal-pingkal sambil mengelap bibir. Pandanganku buyar. Tiba-tiba aku tersadar seakan diriku terbakar. Aku tak sanggup membayangkan letak sayap itu. Bahkan jika ia sekalipun seorang ratu.

"Andi! Pembalut maksudmu?" nadaku sedikit membentak.

"Iya. Hahaha. Kamu suka dengan cewek disana, Ricky? Eeeaaa~" tanyanya diiringi tawa.

Hatiku terhenyak sejenak, bagaimana mungkin sahabatku tahu kalau aku naksir wanita disana. Andi tak mungkin punya indra keenam. Aku hanya terdiam. Tak sedikitpun bergumam. Aku ingin mengalihkan pembicaraan, tapi tak ingin melepaskan pandangan. Darinya. Dari seorang bidadari bersayap dibalik kancut. Ah, sungguh dilema, hatiku seakan ingin lucut.

"Andi, kita pulang aja yuk. Males ah, nongkrong lama-lama sepulang sekolah." dalihku sambil menepuk bahunya Andi.

Senin, 26 Desember 2011

Ombak Pilu! (Memperingati Tragedi Tsunami)

Ombak itu, aku membencinya!
Kehilangan. Lalu, semua itu menjadi kenangan. Bayang-bayangnya akan selalu hinggap, terus ku dekap. Hingga hati ini rasanya tak mampu lagi menahan, semuanya tinggal asa dan berupa serpihan. Aku tak dapat berjumpa dengannya lagi. Ya, beginilah nasib ketika aku ditinggal pergi, ditinggal mati.


"Ayaah... Ibuuu... Kakaak...!" aku berteriak tanpa arah.

Tak satupun yang peduli, tak ada yang mendengar. Semuanya sunyi. Di kiri kanan hanyalah hamparan puing-puing tsunami. Terlihat rata, tak ada yang kembali menata. Aku bingung. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Teriakku tak mencapai surga, mereka, ya mereka tak dapat mendengarku. Lagi.

Teriakkan seketika berubah menjadi tangisan. Asa yang kugenggam, seakan hanya menjadi sekam. Tak berguna dan tak dapat kumakan. Berlari tanpa arah, aku menahan amarah. Aku lelah. Mereka yang kucinta, mereka entah kemana. Aku ingin tetap bersama.

Tujuh tahun berlalu, semua tetap saja sama. Kami masih tak dapat bersama. Sekedar bercengkrama, bernostalgia, ya semua itu sudah lama. Aku manusia biasa, bukan nabi, apalagi Tuhan. Semua itu tentang perasaan. Aku pura-pura menguburnya, itu hanya sebagai alasan. Aku tak lupa, aku masih ingat segalanya.

"Ayah! Belikan aku pesawat-pesawatan dong," ujarnya sambil menggoyang-goyangkan lenganku.

Minggu, 25 Desember 2011

Salju Monyet

"Gue mau melihat salju." Yap, banyak sekali orang yang bilang seperti itu. Tapi, gue rasa salju itu hanyalah umpama seekor monyet. Kok bisa? Sebelum kalian lihat, kalian akan berpikir bahwa monyet itu unyu dan lucu banget. Namun setelah kalian ketemu, kalian akan kecewa, kenapa sih monyet itu mirip muka gue. Mulutnya monyong, banyak bulunya bahkan keteknya bau. Huahuahua *ketawa sambil nepuk dada*

Begitupula salju, ketika kalian belum lihat, salju itu indah. Tapi, setelah ketemu beneran, salju itu beringas banget sob. Gue kecewa dengan salju. Mereka udah beberapa kali membuat gue kepeleset. Bayangin aja, setelah kepeleset diketawain orang. Malu gak tuh? Kecewa kan kalian?

"Hahaha... ada monyet kepeleset!" <-- ini terlalu didramatisir. Muahuahua 
~(^_^)~

Salju juga gak begitu spesial kok, salju itu mirip banget dengan hujan air. Bayangkan ketika kemarau setahun, lalu tiba-tiba turun hujan, pasti ekspresi kalian mirip monyet kegirangan. Salju juga begitu, pas pertama kali turun, kalian pasti excited banget, tapi setelah itu, biasa aja tuh. Yang ada hanya dingin dan diketawain orang pas kepeleset dijalanan.

So, jangan terlalu berlebihan jika ingin melihat salju. Hidup kan harus disyukuri, apa yang kita miliki adalah anugrah dari Allah. Jika memang ingin melihat salju, di Papua kan ada. Seharusnya disana bisa menjadi objek wisata terkenal, namun, setiap kali mendengar salju, yang terpikir hanyalah di Eropa dan dikutub bumi. Salah siapa?

Well, setelah gue pikir-pikir, ada hubungan antara salju, monyet dan natal loh. Jadi, gue akan buat sebuah puisi khusus natal. Walau gue gak merayakannya, tapi gue ikut senang loh. Lumayan, ikut meramaikan. Tiada puisi tanpa backsound yang menghiasi. Jangan makan makanan yang basi, kan katanya Santaclaus mau ngasi. Huahuahua ~(^_^)~

Sabtu, 24 Desember 2011

Tak Bisa Berjalan di Udara, ya di Es Aja!

Aku meluncur di es atau udara yah?
Banyak orang yang berfikir, apakah mungkin kita berjalan diatas udara? Mungkin saat ini belum ditemukan jawabannya. Dari pada mikir yang terlalu jauh, bagaimana dengan berjalan diatas es? Yap. Kalau ini gue bisa melakukannya. Dua hari yang lalu gue sama teman-teman sekolah pergi untuk ber-ice skating di Freital.

Di postingan ini, gue gak akan ngomong panjang lebar, karena gue tau, gambar dan video bisa melakukannya. Penasaran bagaimana asyiknya? Gue punya 2 video dan beberapa gambar. Silakan dilihat. ^_^


video
Susah banget ngerekam sambil ber-ice skating.
Goyangnya maksimal ~(^_^)~

Kamis, 22 Desember 2011

Kau Tak Seputih Dulu!

Beribu hari yang kulalui, terlambai kisah penuh misteri. Kekuatan alam tak selaras dengan pikiran jernihku. Aku yang kaku, aku yang membeku. Didalam sebuah alam, berbeda, dimana cahaya memantul bersih dan putih. Seonggok pemandangan tersaji dalam melodi, kisah hidup seorang berhati hampa. Tanpa harapan dan tanpa masa depan. Semuanya masih kabur.

Masa lalu yang berulang, tak sama sekarang. Putih salju menghiasi rentetan kebahagiaan. Menghiasi lembayung harapan. Tetap berbeda, semua kini berbeda. Tebalnya salju sekarang tak seperti dulu. Mereka seakan hilang tertelan bumi, lenyap dibakar panasnya cahaya surya. Tipis dan miris.

Ya, memasuki awal pertengahan Desember yang nyata ini, tidaklah seperti dulu. Bermilyar salju menghiasi disetiap sudut pandangku, namun kini tak tersentuh. Seperti yang kubilang, semuanya berbeda. Apa karena pemanasan global, atau ini kebetulan yang abal-abal? Entahlah. Salju sekarang tak seindah dulu.

Rabu, 21 Desember 2011

Kebetulan Yang Betul-betul Membahagiakan!

what a surprise!
Gue baru-baru ini belajar disekolah mengenai keberuntungan. Heem.. Mungkin bagi kalian, keberuntungan adalah seperti kebetulan, seperti jatuhnya durian. Yah, mungkin aja. Tapi sebenarnya ada dua jenis keberuntungan loh. Yaitu... "mendapatkan" dan "menjadi" keberuntungan (Glück haben und sein). Bingung yah?

Lebih mudahnya gue kasi contoh aja. Jika kita mendapatkan kehidupan yang layak, kesenangan, kepuasan atau kebahagiaan dalam hidup itu adalah "menjadi beruntung". Namun, jika kita selamat dari kecelakaan, dari penyakit atau dari sesuatu yang tak kita duga itu berarti kita "mendapat keberuntungan". Mengerti kan sekarang? Baguuus~ ^_^

Sebenarnya bukan itu inti utama dalam postingan ini. Well, I just wanna say, I feel that both kind of lucky. Kok bisa? 

Naah... semuanya berawal dari blog ini dan komunitas blogger Kancut Keblenger (KK). Beberapa waktu yang lalu adalah pertemuan akbar antar blogger se-Indonesia. Nama acaranya On|Off. Yang blogger tau dong pasti? Karena kekompakkan antar anggota KK, menjadikan sebuah majalah tertarik untuk berkenalan dan meng-interview. Singkat kata, komunitas yang gue ikuti masuk kedalam majalah tersebut. Tapi.. tapi.. majalah apa itu?

Selasa, 20 Desember 2011

Ini Hadiah Untuk Kalian!

Ketimpa durian #eh
Tiga tahun bukan waktu yang sebentar bagi seorang blogger untuk tetap eksis. Tapi itu udah ditunjukkan oleh teman kita, sahabat kita bersama, Bang Aul. Pertama,  happy anniversary dulu buat kamu bang. Nah, disana dia memberikan sebuah penghargaan (award) untuk semua teman-temannya bertepatan postingan yang sudah melebihi 200 dan followersnya diatas 400. Kebetulan gue juga kena senggol ama dia. Muahuahua

Selain memberi award, dia juga mengadakan giveaway. SO, buat kalian para banci kuis buruan kesana deh. Rugi kalo nggak ikutan. Hadiahnya juga kece abis. Namun sayang, gue gak bisa ikutan karena syaratnya harus domisili di Indonesia. -____-'' *nangis dipojokkan*

Okay, ini dia awardnya. Terima kasih banyak bang. ^_^

Award dari Bang Aul.

Anyway, ada sebuah misi darinya. Bang Aul bilang, setelah mendapatkan award ini, gue harus membagikannya kepada 5-10 Blogger yang so nice gitu. Karena gue orangnya baik hati dan rajin menabung, berikut orang yang beruntung untuk mendapatkan award ini.

1. Kalian yang lagi baca ini.
2. Kalian yang lagi baca ini.
3. Kalian yang lagi baca ini.
4. Kalian yang lagi baca ini.
5. Kalian yang lagi baca ini.

Yap... Kalian semua berhak mendapatkan award ini. Selamat juga buat kalian. Dan satu lagi, tetap semangat nge-blog yah! ^_^

Minggu, 18 Desember 2011

Burungku Yang Hilang

Kegalauan seekor burung!
Maksud hati ingin diatas lantai menggelinding, apa daya diri sedang merinding. Dingin. Ada jutaan salju yang membuat gue tak dapat membuka baju. Kasihan. Ya, gue juga kasihan dengan burung, mereka seakan terkurung dan terlihat murung. Gue merasakan kegalauan mereka. Muahuahaha

Semua terlihat putih, gue yakin mereka sedang sakit dan merintih. Sedih? Mungkin saja. Mari rasakan penderitaan burung itu, mereka tak bisa terbang dan senang. Kasihanilah mereka. Apa salah mereka? *efek nonton sinetron*

Gue gak bisa melihat burung-burung beterbangan hari ini. Banyak orang mengatakan sebagai hibernasi. Oke, hibernasi itu bukan si burung makan nasi, tapi tidur selama musim dingin. Biasanya keren banget bisa lihat banyak burung terbang, tapi semua berubah sekarang, setelah negara api menyerang.

Hati gue seakan terpanggil untuk memberi penghargaan kepada burung-burung itu, karena selama ini mereka sudah menghibur gue. Lewat sebuah puisi gue ingin berikan hati ini untuk mereka. *terdengar berlebihan* Seperti biasa, puisi akan terasa berisi ketika backsound menghiasi. Baca puisi ini, hati tersenyum, hidup kan warna-warni.

Jumat, 16 Desember 2011

Another Day Bagian 4 (Akhir)

Sub Judul: We are "Another Day"
Baca Sebelumnya:

Sayup-sayup nyayian itu semakin keras menggema. Nyanyian itu terasa asing bagi telinga. Aku tak pernah menyanyikannya. Arghh. Aku tak peduli. Tetap saja, pandangan ini masih kabur. Dan, hatiku hancur lebur.

Tunggu dulu. Sepertinya aku menangkap sesuatu, sesuatu tentang Nisa. Suaranya dapat kurasa. Benar, itu suara Nisa. Namun, dimana? Apakah aku di alam yang sama? Ia mengatakan sesuatu. Perlahan, mataku mulai bisa terbuka. Sedikit kabur. Tak apalah, setidaknya aku mulai berusaha.

"Nii.. saa.." suaraku terasa berat dan terbata-bata.

Entah berapa lama kubegitu, sampai aku bisa membuka mataku. Sedikit demi sedikit. Silau. Tidak, mataku sakit. Sungguh. Cahaya apa itu? Tiba-tiba semua terang. Tunggu, senyuman itu. Aku mengenalnya. Begitu harum.

"Nisaaa..." aku memanggilnya.

Ia tersenyum. Aku sudah berteriak memanggil namanya. Berkali-kali. Ia hanya tersenyum. Sekarang aku lega, aku bisa bertemu dengannya. Berubah. Ya, ia terlihat lebih indah.

"Nisa, apa itu kau? tanyaku mendekat.

Aku tak percaya kali ini. Bahkan dengan diriku sendiri sekalipun. Aku dimana? Aku melihatmu dengan jelas, sedangkan kau. Apakah kau tak bisa? tanyaku dalam hati.

Tapi biarlah, asalkan aku bisa bertemu lagi dengannya. Aku bahagia. Puing-puing hatiku serasa kembali menyatu. Syukurlah, lanjutku dalam hati.

"Kenapa, dimas?" akhirnya ia bertanya kepadaku, ia bisa melihatku. Aku semakin senang.

Another Day Bagian 3

Sub Judul: Dimana aku?
Baca sebelumnya:
[Another Day Bag.1]
[Another Day Bag.2]

Kembali sunyi. Ya, segalanya seakan bersembunyi. Mentari pagi tak menyilaukan, tak terdengar kepakkan ayam jantan. Apa semuanya masih tertidur? Apakah mungkin? 

Entahlah. Kupandangi jam pada telepon genggam. Ternyata sudah enam jam lamanya ku terpejam. Pantas saja, sekarang masih pukul empat pagi.

Bergegas, ku bersiap. Aku ingin menjemput Nisa pergi kuliah. Aku sudah tak sabar. Terlebih aku merasa, hari ini sangatlah spesial. Ingatanku akan kemarin kembali datang, sungguh, hari itu akan s'lalu kukenang. Dilubuk hati terdalam.  Mempesona bagaikan sepucuk bunga yang merona. Sungguh indah.

Sedikit waktu santai, kugunakan 'tuk duduk diatas lantai. Diatas sebuah kursi, berteman secangkir kopi. Imajinasiku melanglang buana, kesana, jauh kesana. Aku tersenyum membayangkan Nisa. Semuanya. Semua tentang Nisa membuatku bahagia.

Kamis, 15 Desember 2011

Another Day Bagian 2

Sub Judul: Dimalamku, didalam hatiku!
Baca sebelumnya:
[Another Day Bag. 1]

Terlihat Nisa duduk manis, disana, ya diatas kursi usang bermemori cinta. Kursi yang menjadi saksi janji kita. Kita berdua. Taman yang indah dengan danau mungil didekatnya. Aku senang ia sudah disana.

"Niiisaaaa!" teriakku sambil berlari.

Kuhentikan langkah dan kutatap matanya. Aku rindu, rasanya ingin berbulan madu walau kita belum beratap satu. Hatiku berdegup tak karuan. Sejenak kami beku dalam pandangan. Ia hanya tersenyum. Sungguh harum. Entah apa yang harus kulakukan, hanya tepaku dikeheningan, hingga ia memulai percakapan.

"Aku udah sejam lebih loh disini, mas." ujarnya sambil tersenyum.

"Haah?! Yang benar saja? Kenapa?" jawabku heran dan terkejut.

"Heem... Nggak papa sih, hanya ingin duluan aja. Kan biasanya kamu yang selalu duluan. Kali ini gantian dong." ujarnya santai.

"Oh, oke deh. Ada apa nih? Ada film baru yang mau ditonton sama-sama yah?" balasku.

(Backsound di putar!)

Ku peluk erat dirinya, ingin ku cumbui hatinya. Bagaikan indah khayangan tak lagi berupa bayangan. Terlebih, hatiku tak lagi hampa. Seperti biasa, seperti kita biasa berjumpa. Entahlah. Yang kupikir hanya kau semata. Sekali lagi, semua orang melihatku, semuanya memperhatikanku.

"Yaudah, yuk pergi senang-senang hari ini." cobanya untuk melepas pelukanku.

Rabu, 14 Desember 2011

Another Day [Cerbung]

Sub Judul: Aku senang, aku bahagia!
Sunyi. Tak ada yang kurasa saat ini, semuanya bersembunyi. Pandangan ini terbiaskan cahaya mentari yang menyadarkanku akan sendiri. Aku tersadar, aku bukan aku yang benar. Tak biasa, awali minggu pagi dengan hening di hati. Aku takut.

"Dimana aku sekarang?" tanyaku dalam hati.
"Mas, bangun! Ayo, sarapan!" masih kudengar pekikan itu dibalik pintu.

Dahiku mengernyit dan mataku terbuka sipit. Kulangkahkan kaki ini  'tuk menyantap sarapan. Rasanya hambar. Entah kenapa, apakah ada yang salah denganku hari ini? Semangatku seakan hilang tertelan bumi, raup terbawa ombak dimusim semi.

"Kriing!" telefon genggamku berdering.

Setelah ku lihat, ternyata sebuah pesan singkat. Aku belum siap, aku belum genap. Sontak ku terkejut, ketika Nisa bilang akan datang menjemput. Ia cinta yang telah lama kurajut.

"Jamban, mana jamban?" teriakku histeris.

Selasa, 13 Desember 2011

Rahasia dan Misteri?

solve this mytery!
Misteri. Satu kata yang bisa membuat orang berpendapat beraneka-ragam. Jika kita hilangkan saja huruf i pada akhir kata, maka akan berarti tuan. Jika kita bagi kata tersebut menjadi dua, Mis dan Teri, maka akan berarti ikan teri yang tertukar hilang. #eh Nah, namanya kan juga misteri. Muehuahue ~(^_^)~

Well, misteri itu bukan seperti canda, namun bagaikan hilangnya pesawat disegitiga bermuda. Bukan seperti bunga yang mengembang, namun bagaikan UFO yang sedang terbang. Yap! Kerahasiaan dalam misteri inilah yang selalu menarik keingintahuan orang.

Terlepas dari itu semua, hati manusia adalah sebuah misteri. Gue ingin tahu, bagaimana caranya menyentuh hati orang dan bagaimana cara mempermainkannya, tentu bukan dalam arti sebenarnya. Gue ingin tahu cara meluluhkan hati kalian. Muahuehuahue ~(^_^)~ Kedengaran keren kan? *rapiin kerah baju*

Mungkin kalian masih ingat dengan lagu Ari Lasso - Rahasia Perempuan. Coba di putar ini.

Minggu, 11 Desember 2011

Telanjangnya Bulat, Bulatnya Bulan, Bulannya?

aku bukanlah pisang!

Jika sedang tak berbusana, jangan pernah manjat pohon rambutan, makanya pake celana, ntar kancutmu keliatan. Muahuahua... Oke! Gue gak ada niat untuk porno aksi, apalagi posting video pas lagi mandi. Nggak kok. Tapi gue merasa, remaja masa kini sering mengartikan "tak berbusana" sebagai sesuatu yang tabu. Gak percaya?

Perhatikan percakapan berikut:


Cowok: Kamu jelek pake baju itu yang. *niatnya gombal*
Cewek: Loh kok kenapa?
Cowok: Bagusnya gak pake baju!
Cewek: Sialan lu! *tampar*
Cowok: Padahal mau bilang, seperti bulan yang indah walau tak berbusana         -__- *gombal gagal*

Muahuahua... Oke! Mungkin salah si cowoknya ya, mau menggombal tapi mengatakan sesuatu yang tabu duluan. Sebenarnya gue setuju sih dengan si cowok diatas, sesuatu yang tak berbusana biasanya memang indah. Muahuahua *just kidding*

Oh ya, di Indonesia habis ada gerhana bulan kan, nah sebuah kebetulan banget nih. Gue merasa ada sesuatu yang terhubung antara kata "tak berbusana" atau bahasa kerennya TELANJANG, sebuah "keindahan" dan sang rembulan.

Kebetulan ini akan gue manfaatkan untuk membuat sebuah puisi. So, sebelum melanjutkan membaca, lebih baik kalian ketawa dulu. #eh Nggaklah. Sebelum lanjut, di putar dulu backsoundnya.

Jumat, 09 Desember 2011

Seperti Mati Suri

Heem.. showeran gak yah? :|
Meratapi senja bertemankan hembusannya manja, tak dapat kurasa dengan tubuh yang lunglai tersisa, sempat berkata kepadanya, apa daya, tubuhku meronta-ronta. Tanpa suara. Tanpa semangat yang membara. Bak seorang pemabuk, walau ku tidaklah sibuk, berjalan dengan perasaan kantuk.

"Akhirnya sampai dirumah....", kataku beriring hembusan napas
"Baaang, aku pinjam komputernya yah?" terdengar sahutan antah berantah
"Iya, pakelah sana."

Tas melayang, bajuku terbang, berteman bayang-bayang seseorang yang hilang. Bingung. Terpaku membisu dalam senja itu. Merenung. Ku letakkan tubuh ini diatas istana malamku, pejamkan mata, dan hatiku berkata-kata.

"Dek, bangungkan abang jam 6 sore yah, mau tidur sebentar nih." masih sanggup 'tuk bersuara
"Okelah!" masih kudengar jawaban itu

Hingga tiba alam bawah sadar, harapku mulai pudar, terlelap dalam damainya, selamat tinggal semuanya.

Muahuahuahua... gue iseng nulis flash fiction nih. Ada yang mengerti maksud sebenarnya? Yap! Mungkin dipercakapannya terlihat jelas yah, kalo gue hari ini tidur sepulang sekolah. Sedikit cerita nih. Kemarin gue sama sekali gak ada tidur semalaman, atau lebih tepatnya jam 3 pagi baru tidur, hanya karena tugas. Ada 2 presentasi dan ulangan kimia. Walau sudah siap beberapa hari sebelumnya, tetep aja gue maunya harus bisa menguasai semua materi. Dan, alhamdulillah, di 2 presentasi itu gue dapat nilai 1. (Di Jerman nilai tertinggi 1, abis itu 2,3,4,5 dan terendah 6. Mirip dengan Indonesia yg kadang menerapkan nilai A, B, C gitu.) Untuk ulangan kimianya, lihat aja ntar, tapi gue yakin dapat nilai yang bagus juga. ^_^

Well, walaupun gue udah dibangunkan dengan adek pas jam 6 tadi, masih aja rasanya tidur itu kurang. Jadi yah, gue tidur lagi dan nggak minta bangunin. Muahuahua... Alhasil, gue terbangun jam 11 malam ini. Serasa abis mati suri gitu. Teringat belum mengemaskan buku untuk besok, belum menulis di blog dan belum goyang gayung ama kalian. Muahuahua ~(^_^)~

Yaaah! Sedikit puisi deh hasil ketiduran barusan. Dan seperti biasa, backsoundnya di putar yah. ^_^

Rabu, 07 Desember 2011

Masalahnya Itu Setelah Nggak Masalah

you got a problem?
Banyak sekali orang yang bilang, janji itu dibawa sampai mati. Ada juga yang bilang, janji itu ibarat mempertaruhkan hati. #uhuk2 Mungkin gue bisa menarik kesimpulan dari dua pernyataan itu. "Jika berjanji harus hati-hati kalau tidak ingin mati". Setuju? Muahuahua

Yap. Kalo udah ngomongin masalah janji-menjanji nih, mungkin ada yang mikir. "Palingan mau cerita tentang politik" *sambil pasang muka kampanye* atau malah "Wah, si abang mau mengikrarkan janji pemuda" *adanya sumpah kali -_-* Tapi sayangnya pikiran itu sama sekali salah.

Yang jadi masalah itu sebenarnya setelah nggak masalah. Bingung ya? Tapi gimana kalo gue ganti kalimatnya menjadi seperti ini.

"Masalah setelah mengatakan "nggak masalah"."

Naah... Mungkin diantara kalian banyak yang bilang. "Ah, nggak masalah". Iya gak? Gue pernah baca tulisan seorang master bisnis Indonesia, namanya Putu Putrayasa. Judulnya adalah Arti Kata "Nggak Masalah". Dalam kesimpulan tulisannya, beliau bilang, dalam alam bawah sadar manusia sebenarnya tidak mengenal kata yang negatif seperti tidak, nggak ataupun bukan. Sebenarnya, jika kita mengatakan Nggak masalah, maka akan timbul masalah pada kenyataannya.

Percaya atau tidak, itu terserah kalian! Tapi... hem.. tapii...

Selasa, 06 Desember 2011

Aku Ingin Menjadi Sebatang Lidi! (Puisi Spesial Untuk Teman)

Aku ingin menjadi
lidi ^_^
Jika ada yang bilang hati seseorang seperti kapas yang lembut, gue ingin mengibaratkannya seperti sebatang lidi. Kenapa? Hanya karena sebatang lidi sangat rapuh untuk dipatahkan. Akan sangat gampang untuk dihancurkan. Namun, disisi lain, gue juga ingin menjadi sebatang lidi. Bukan untuk menjadi seorang yang rapuh, apalagi seorang sesepuh, melainkan untuk menemani lidi yang lain.

Secara logika, jika satu lidi gampang dipatahkan, 2 lidi akan semakin sulit, dan semakin banyak maka lidi-lidi yang rapuh itu akan semakin kuat. Itulah alasan mengapa gue ingin menjadi sebatang lidi. Lewat postingan ini, gue ingin menyemangati seorang teman yang sedang patah hati, walaupun dia suka joget gayung, tapi kalo udah masalah hati. Jangankan mati, bisa-bisa baju pun berganti. #eh Muehuehui

Gue sebagai jomblo bingung, haruskah gue prihatin atau senang? Sebab, ternyata ada satu lagi orang yang memasuki aliran ini. Hahaha. Peace ^_^v. Okaay, sepertinya gak cocok banget deh, kalo gue buat lelucon disaat seorang teman lagi patah hati. :3

Namanya Diah. Tolong jangan tanya ini cowok atau cewek. Gue gak mau terjadi fitnah diantara kita *eaaa*, ntar kalo cowok malah dibilang homo, kalo cewek malah diolok-olok. Apalagi, gak ada kelaminnya. -__-'' Jadi, gue rahasiakan aja identitasnya.

Gue semakin iba setelah melihat chatnya yang ini. *gue dipanggil uncle, jadi berasa tua nih*

Wait Me, It is so Yummy!

I'm soo happy!
Ibarat kata pepatah, kemarau setahun bisa hilang hanya dengan hujan sehari. *betul gak sih pepatahnya?* Well, itu yang sekarang gue rasakan. Kemarau itu bukan seperti sebuah surau karena kalian gak bisa asal-asalan bergurau. Hujan juga bukan seperti jajan karena kalo jajan diluar ntar basah. #eh Muahuahua

Sebenarnya, gue mau mengumpamakan kemarau itu seperti sebuah masalah, dan hujan seperti jalan keluarnya. Yap! That's the point. Gue kali ini ditimpa masalah besar. Masalahnya adalah tugas sekolah gue numpuk, selain itu diminggu ini ada beberapa kali ulangan dan juga presentasi. Tapi alhamdulillah, karena akhirnya gue bisa diguyur hujan. #eh

Anyway, apa sih jalan keluar dari penderitaan gue itu? Jawabannya adalah jari gue bisa menari diatas keyboard laptop lagi, untuk menuliskan sebuah postingan. Benar-benar seperti surga duniawi. Muahuehuahui

Lalu, kenapa gue tulis judul seperti diatas, it's so simple, dude. Tadi, beberapa saat sebelum gue menyelesaikan tugas-tugas, gue udah gak sabar mau buat postingan, dan setelah duduk manis didepan laptop, itu rasanya hem.. itu.. heem.. it's sooo yummy. ^_^

Mungkin untuk melampiaskan kesenangan ini, gue akan buat sebuah puisi. Kalo kata orang sih, ada uang ada barang. Tapi, bagi gue, ada backsound ada puisi. Hihihi

Minggu, 04 Desember 2011

Ketika Sedang Stress...

relax~
Hujan selalu mempunyai daya magis. Membuat orang yang mendengarkan irama rintikannya hanyut dan tenang. Ternyata suara hujan juga bisa menjadi momentum untuk merenung dan yang pasti mengoreksi diri. Terkadang hanya dengan mendengarkannya kita bisa meneteskan air mata. Nggak pecaya? Mari kita buktikan.

Jika kalian merasa terbebani dengan pekerjaan, berpuluh deadlines yang harus dikejar. Kali ini gue ada sedikit tips untuk menenangkan pikiran. Hal ini pun gue praktekkan jika pikiran mulai memberontak.

Tipsnya:
Kalau hujan turun, itu akan lebih baik. Cukup dengan duduk di teras rumah dan dengarkan lagu yang mengalun indah berteman secangkir teh hangat, pejamkan mata dan rasakan jiwa kalian terbang. Kalaupun tak ada hujan dan teras, tak masalah. Kita bisa praktekkan sekarang dan disini. Ya, betul disini. ^_^

Oke, sekarang fokus dan tenangkan pikiran kalian. Jika sudah siap putar kedua video dibawah secara bersamaan. Rasakan dalam hati!

Sabtu, 03 Desember 2011

Kontroversi Ini Bukan Basa-basi

Sahabat selamanya ^_^
Apapun yang kita lakukan pasti akan menuai reaksi berbeda dari orang-orang sekitar. Contohnya, ada yang bertanya ke gue, "Buat apa sih ngeblog?" ada juga yang bilang, "Ngeblog itu gak ada seru-serunya kali". Sudut pandang yang berbeda itulah yang membuat dunia ini berwarna.

Biasanya kalo ada yang bilang seperti itu, gue akan balas bertanya, "Hobbymu apa?". Pasti mereka akan menjawab apa yang merupakan hobbynya. Setelah itu akan gue balas lagi, "Kenapa bisa punya hobby seperti itu?". Nah, dari survey yang gue lakukan sendiri tersebut, hampir semuanya bilang, "Karena itu membuat gue bahagia dan senang".

Begitu pula yang gue lakukan sekarang, Blogging. Selain itu, blogging juga bisa menambah lebih banyak teman, bisa saling berbagi interest yang sama, atau bahkan bisa juga saling bertemu (kopdar) jika itu memungkinkan.

Nah, mungkin juga ada yang bersudut pandang lain, seperti memuji. Kalau tulisan kalian menarik, pasti banyak yang suka. Dengan dipuji biasanya akan membuat kalian tambah semangat untuk berkarya lebih baik. Betul gak?

Coba lihat gambar yang ini.

Jumat, 02 Desember 2011

Desember Indahku (+Puisi)

Sekarang udah bulan Desember, bener-bener gak terasa yah udah dipenghujung tahun. Mungkin banyak harapan-harapan kalian yang sudah terkabul, atau mungkin belum. Yah! Tidak masalah, asalkan terus berusaha dan berdoa, cepat atau lambat pasti terwujud.

Biasanya setiap awal bulan, banyak sobat-sobat blogger menggunakan kesempatan ini untuk posting wish list, ada juga yang menyambutnya dengan cara yang berbeda, seperti menggambar atau apapun itu. Nah, kalo gue mau posting puisi aja yah.

Seperti biasa, setiap ada puisi tentu ada backsoundnya. Wokeeh... diputar maaang~

Kamis, 01 Desember 2011

Doamu Membuatku...

We are the champion!
Yeeeeeehaaaaa!! Terima kasih banget buat doa kalian. Berkat doa kalian gue alhamdulillah hari ini juara 1 (lagi) di turnamen bola voli tingkat Mittelsachsen. Gak nyangka banget bisa menang. Mungkin sedikit ceritanya.

Langsung aja keputaran final yah, abis kalo dari awal kepanjangan ntar. Di putaran final itu ada 3 tim yang di adu, yaitu Gymnasium dari Rochlitz, Mittelschule dari Roßwein dan tentunya sekolahku Mittelschule Clara Zetkin. Masing-masing tim bertanding 2 kali, yang paling banyak menang tentu keluar jadi juara.

Dari dua kali pertandingan itu, tim kami menang terus dengan hanya 2 set. Sedangkan Rochlitz menang satu kali melawan Roßwein, dengan kata lain Roßwein gak ada menang sama sekali diputaran final itu. Singkat kata, kami jadi juara. Alhamdulillah yah.

Nah, bukan hanya yang cowok, tim cewek pun secara mengejutkan tampil sebagai juara. Benar-benar hasil yang diluar dugaan. Nanti bulan februari tahun depan, kami tanding lagi diturnamen yang lebih tinggi, ntar mainnya di kota Chemnitz. Wish me luck, guys! Ohya, gue bener-bener lupa untuk ngambil foto, tapi ntar kalo piagamnya udah dikasi, pasti gue upload disini kok. Tunggu aja yah ^_^

Sesuai janji, jika menang, gue akan posting sebuah puisi buat kalian semua yang udah doain gue tentunya. Biar lebih asyik, pake backsound dong. Di-play yah.
newer posts older posts back home