Monolog: Kisah Putih Ombak Pilu Bukan Halangan Yang Tak Dianggap Tawamu Yang Terakhir

Selasa, 31 Januari 2012

Tawamu Yang Terakhir

Ia tersenyum. Aku dapat melihatnya dengan jelas. Sangat jelas bagaimana otot rahangnya berusaha mengukir keteduhan dalam sendu. Matanya sedikit menyembunyikan rasa pilu walau tak mampu. Tetes air matanya  pun berteriak semu meninggalkan kelopak untuk menghujam haribaan bumi. Sanubariku diselimuti haru. Aku mengusap lengannya yang keriput itu. Dari atas kebawah telapak tanganku melukis hampa, kemudian ku peluk tangannya yang tergeletak tanpa daya.

"Ayah..." panggilku lirih.

Kesunyian menghampiri kami sejenak. Ia tak mau menjawab. Bukan, ia tak bisa. Ia tetap terbaring tanpa gerakan satu jengkal pun. Bibirnya yang manis tertutupi oleh alat bantu nafas, bahkan hingga ikut menyembunyikan indra penciumannya. Aku paham.

"Kau mendengarku, kan?" lanjutku memeluk erat tangannya.

Mainkan melodi dan rasakanlah dalam sanubari!

Sepuluh tahun silam, aku masih mengingatnya. Bibirmu kau gunakan untuk mendongeng hingga aku pulas tertidur, menguratkan kenangan yang terpatri selalu. Indah. Masa itu aku merindukannya. Tidak seperti sekarang dimana kau hanya menggoreskan satu tawa yang begitu sulit untuk dilakukan. Bibirmu yang selalu menari untuk menceramahiku, menasehatiku, kini juga telah kelu. Aku tak bisa merasakan deritamu seutuhnya, namun aku yakin pasti itu begitu perih.

"Ibu sedang dirumah, sekarang aku menggantikannya untuk merawatmu. Kasihan ia, aku tak mau ia jatuh sakit. Kau pasti sembuh, Ayah!" ujarku sambil menatap matanya.

Sseekk. Jemarinya bergerak menyeret alas tilam rumah sakit. Sedikit, tak sampai satu jengkal.

Aku terperanjat dari tempat duduk yang berada disampingnya, "Ayah! Jari telunjukmu baru saja bergerak!" seruku bersemangat.

Ia menggerakkannya lagi. Hal kecil yang membuat batinku menemukan asa. Apakah Tuhan masih memiliki keajaibanNya? Aku yakin. Ayahku pasti akan diberikan keajaiban untuk tetap hidup dan bersama kami. Sekeluarga yang selalu berserah padaNya.

"Ayah, haruskah aku membacakan sesuatu untukmu?"

Ia masih tak menjawab. Namun, matanya menyiratkan semua. Tatapan yakin beriring tawa sendu.

"Aku bacakan sebuah ungkapan hatiku saja, ya?! Dengarkan baik-baik ya, yah!"

Ku terpejam dalam kisah rindu
Menerawang masa tanpa sendu
Memilah tragedi masa lalu
Kita 'kan bersama selalu

Dalam tawa beriring berlalu
Bak melodi mengalun tanpa kelu
Sanubariku ingin bernyanyi
Bersamamu, berdua dalam sunyi

Semangat membara, jiwa tak tergoyah
Cintaku indah berbalut mesra
Hanya untuk seorang ayah
Bersamamu kasih tiada tara


Aku tak mampu menahan haru dan terhenyak dalam kalbu. Aku melihat air matanya mengalir perlahan membasahi pipinya. Aku tak pernah melihat senyum yang seperti ini. Begitu ikhlas, begitu menyejukkan hatiku. Ya, dari seorang panutan langkahku. Ia tersenyum hingga tersedak pada bagian dada. Begitu menggelikan hatiku.

Tidaaak. Ia terus menerus tersedak. Bagian kakinya kejang, tangannya menghentak menerjang. Raut mukanya berubah menjadi aneh, tatapannya menjadi kosong. Aku tak bisa melihat senyumnya. Bibirnya terbuka lebar seakan sesuatu gaib keluar dari mulutnya. Aku mendengar rintihannya seperti nada berlendir berasal dari tenggorokan. Aku histeris. Seketika aku berlari keluar dalam kegusaran untuk mencari bantuan.

"Dokter! Ayahku! Kemari!" teriakku memanggil seorang dokter yang berada jauh didepan. Aku panik. 

Dalam keadaan darurat aku mengacak-acak rambutku dari jendela ruangan. Mengintip dokter yang disibukkan dengan berbagai macam alat medis. Dokter tadi tersenyum kepada susternya. Aku bisa melihatnya dari kaca transparan ini. Ayahku selamat? 

Selang beberapa kedipan mata ia menggelengkan kepalanya. Mengangkat alas tilam menutupi wajah ayahku. Lalu, berjalan perlahan keluar ruangan.

"Maafkan saya, ayahmu kembali ke sisiNya," ujar dokter sambil menunduk.

Aku berlutut dan mengehempas diatas lantai, "Inikah keajaibanMu? Terima kasih telah memberikanku kesempatan melihat tawanya yang terakhir. Terimalah ia disisiMu."

Bahagiakanlah orang tua kita 
selagi mereka masih ada didunia.
Buatlah mereka tersenyum bangga! 


(Tawamu Yang Terakhir dan Bersamamu, Ayah karya BasithKA )
Dilarang menyebarluaskan cerpen dan puisi ini tanpa izin penulis.


Bagikan Artikel di:

28 komentar:

  1. Pengeeeeen pulaaaannnngggg!!!!! :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pulang ke hatiku pun? :P

      Hapus
    2. ke ayah bunda.. kalo kamu mah tiap hari aku selalu pulang kesana :3

      Hapus
    3. Hehehehe~ Iya kok iya, aku ngerti :p

      Hapus
  2. untuk saya yang masih menggantungkan hidup dengan orang tua, sebenarnya mereka nggak berharap sepeser rupiahpun, mereka hanya ingin anaknya nanti sukses dan hanya sukses dunia dan akhirat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya benar bang ;) Makanya jangan terlalu bernafsu lagi hahaha :p

      Hapus
  3. Balasan
    1. <-- ikut terharu una *ngelap ingus* :D

      Hapus
  4. sediiiiihhhhhhhh,,dapet bgt nih sedihnya :(((

    harus jd anak kebanggaan ortu kita *ctar ctar* !!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukurlah kalau bisa dapet feelnya :D Hehehe benar!

      Hapus
  5. Hooooooaaaaaa bikin galau, keingetan nenek gw yang baru meninggal kemarin...
    hikz...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Inalillah~ Aku turut berduka bang >.< Semoga beliau diterima disisiNya

      Hapus
  6. cerita nya ngalir, bagus.
    tapi kenapa sad ending?
    haduuuh, pagi-pagi udah sdih ajaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukurlah :) Ya, variasi cerita hehe

      Hapus
  7. sedih... ayah sibuk banget akhir-akhir ini ;( nanti kalau aku udah gede aku yang sibuk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... Itulah hidup, kita harus bisa mengaturnya :D

      Hapus
  8. Balasan
    1. Baguslah feelnya dapet kang #eh om hahaha Ciee yg udah punya keponakan :p

      Hapus
  9. walau tawa yg terakhir tapi bagaimana tawa itu bisa terkenang & selalu diinget itu yg terpenting soalnya semua akan kembali ke Tuhan

    BalasHapus
  10. paling sedih dan paling bisa memainkan perasaan pembaca bila yang mati itu ayah atau ibu.

    BalasHapus
  11. waaaaaaa asli mewek baca cerpennya yang ini :"(
    bang basit tanggung jawab bang!! :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku gak menghamili kamu dika, apa harus aku tanggung jawab? hahaha :p

      Hapus
  12. huwaaaa.. gue gak suka endingnyaaaa.. jleb banget :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... pengaruh cerita ya masih terbawa sampai menulis komentar :p

      Hapus
  13. Balasan
    1. Baguslah dini kalau feelnya dapet ^_^

      Hapus

Komentar tidak melalui seleksi apapun. Jadi, ayo berkomentar! Tapi yang beretika yah. Terima kasih untuk tidak jadi Spammer. ^_^

newer posts older posts back home