Monolog: Kisah Putih Ombak Pilu Bukan Halangan Yang Tak Dianggap Tawamu Yang Terakhir

Kamis, 02 Februari 2012

Rembulan Sedang Bulan Madu

Aku membalas tatapan rembulan yang sinis. Spektrum warnanya menyentuh korneaku yang buta akan gelap gulita. Irisku mengecil membagi sinarnya sama rata. Dingin. Ia bukanlah purnama yang bercahaya sempurna, hanyalah sederhana yang melengkung indah. Tatapan ku lepas, lalu kembali dalam kegelapan. Aku terduduk mendekap tubuh berselimutkan jemari, lutut menyatu bersama dadaku yang dipenuhi rasa abstrak. Sunyi.

Kelopak mataku perlahan mulai berat untuk disanggah, semakin sulit untuk merangkai tawa. Aku hanya tersenyum dalam basahnya tetes duka. Tidak, aku tak bersedih. Rintihan lendir kala aku menarik nafas adalah refleksi bahagia. Sekali lagi, ini bukan derita.

Aku mengangkat kepalaku lagi, "Ya, Tuhan. Apakah Kau mendengarku?" ujarku lirih.


Aku tersesat dalam cengkraman belantara. Sekitarku hanyalah belukar yang menjalar liar, pohon yang menjulang menghadap Tuhan untuk memohon. Sama sepertiku sekarang, aku berdoa dan mengharap, namun ini bukan habitatku. Asalku tidaklah dikelilingi oleh jutaan mara bahaya. Bahkan jiwaku tak pernah merasa cemas. "Tapi, ini berbeda?!" hatiku membentak. "Diam!" balasku. Suci. Ya, aku berasal dari sana. Tak ternoda dan menangis kala menyentuh dunia.

"Bebaskanlah aku, Tuhan!" teriakku dalam sunyi.

Ia tak mendengar. Bukan, Ia tak menjawab. Mungkin lantunan pintaku masih bernada rendah dan belum mencapai surga. Atau malah, ada media yang merusak nadaku mencapai langit berlapis tujuh disana? Entahlah. Walau jutaan kisah telah menjadi bayangan masa, tinggal kenangan yang ada dalam jiwa. Aku tak perduli. Aku hanya ingin bersama diriMu jikalau memang harus sendiri. Atau mungkin mati?

"Aku meminta Kau untuk membuka hati hambaMu. Meneranginya tanpa sendu. Dan, menutup segala jeritan sia-sia ini. Aku padaMu, Tuhan segala alam! Selamatkanlah hamba!" lanjutku.

Sssshhh. Aku mendengar desis dalam nada jangkrik. Lantunan tak berirama yang menghancurkan simfoni jangkrik. Aku mengenalinya. Ya, sepertinya makhluk bersisik vertebrata. Tapi, aku tak melihatnya. Begitu gelap, ia bersembunyi dan siap menerkamku kala lengah. Hanya rembulan bersama jutaan bintang membantu menerangi.

Aku bersujud, "Ini pintaku. Jika aku masih bernyawa, selamatkanlah aku dari pasir dosa. Jika Kau tak mengijinkannya, terimalah aku dalam dekap kasihMu." ujarku melanjutkan doa.

Jasad ku angkat serta merta ku menatap rembulan, "Apakah cahaya utuhmu sedang berbulan madu dengan Tuhan? Mengapa kau bersembunyi dariku dan hanya menampakkan sebagian refleksi sinarmu? Aku juga ingin sepertimu, bersenang-senang dalam bulan madu bersama Tuhan. Mendapat kasih yang utuh dalam dekapanNya yang erat. Sungguh."

*****

"Dunia dengan segala sadisme yang tak memandang menuntut kita untuk memilih dilema yang ditetapkan oleh Tuhan, baik atau buruk? Sejatinya Tuhan akan membimbing kita dengan berjuta cara untuk kembali kejalanNya. Bertobat? Itulah keinginanNya. ^_^
-Basith K. Adji

(Rembulan Sedang Bulan Madu karya Basith K. Adji)
Dilarang menyebarluaskan Flash Fiction ini tanpa izin penulis, hak cipta dilindungi undang-undang.


Bagikan Artikel di:

24 komentar:

  1. Cintailah Tuhan diatas segalanya..
    hhm yang pasti cintaku ke Tuhan jauuuh lebih besar daripada ke kamu sith #eh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, benar fun. Huahahaha~ *ngakak* Jadi, aku masih disembilankan kan? #eh :p

      Hapus
    2. diantara sembilan kamu yang utama sith =)

      Hapus
    3. Hahaha :)) ah funy ah *kelepek2* :p

      Hapus
  2. Terimalah aku dalam kedap Kasih mu #azeek

    BalasHapus
  3. Aku ini milikMu.
    Bahagiakanlah aku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku gak mau seranjang denganmu bang, aku masih perjaka #eh hahaha :p

      Hapus
  4. Oh, Tuhan bimbinglah langkah ku..
    #ikuitan doa..

    BalasHapus
  5. makanya tobat siith,
    eh??

    BalasHapus
    Balasan
    1. *sujud* hombala hombala hahaha :p

      Hapus
  6. itu yang kotak2 apa ya? atau koneksiku yang jelek jadinya kotak2 -.-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu koneksimu >.< di refresh aja ;)

      Hapus
  7. selamatkanlah aku dari pasir dosa *aish *kemudian tobat

    BalasHapus
  8. Tuhan adalah sang pembuat jantung kita berdetak dan nadi kita berdenyut lalu mengapa kita tak bisa bersujud pada-Nya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kenapa nanya ke aku bang >.< hahaha

      Hapus
  9. ergh, pilihan katanya bikin sirik! analoginya bikin ngiler! #gulingguling

    BalasHapus
  10. keren basith....jadi terpaku membaca postingan ini...TOP deh, ntar ajarin kk yah...sejatinya hanya cinta kepada Allah lah yg hakiki..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oke deh ^_^ hehehe makasih kak mut :D

      Hapus
  11. untung saya masih ingat cara comment ._.


    kak basith sendiri udah tobat belum? pasti belum yaaa xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha dasar dini ah :p Aku blm tobat, tapi lagi dapat #apadeh :p

      Hapus

Komentar tidak melalui seleksi apapun. Jadi, ayo berkomentar! Tapi yang beretika yah. Terima kasih untuk tidak jadi Spammer. ^_^

newer posts older posts back home