Monolog: Kisah Putih Ombak Pilu Bukan Halangan Yang Tak Dianggap Tawamu Yang Terakhir

Senin, 23 Januari 2012

Ekspektasi Dalam Dua

"Siapa aku? Aku hanyalah manusia hina yang takut sang Penguasa. Citaku tak lebih dari mendapatkan cinta dariNya," ucap seseorang bernada bass.

"Hahaha. Tuhan? Ia hanyalah gaib yang tak kupandang, hanyalah zat yang tak kurasa. Harta! Ya, sejatinya hanya harta yang membuatku bahagia," sanggahan dalam mezo-sopran.

"Ampunilah kami, berikan kami hidayah, serta lindungilah orang-orang disekitarku," hempasan doa bernada tenor menggaung keras.

"Sholat? Berdoa? Ah, persetan akan itu semua. Dengan menungging hanya waktu yang menjadi sia, lagipula tak memberiku sesuatu secara instan," kembali yang lain menyanggah.

"Allahu akbar. Sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang baik bagi hambaMu," ungkap lelaki muda, matanya menangkap cakrawala.

"Ah, sudah! Aku tak peduli apa itu hidup, aku hanya berusaha menikmatinya!" dengan nada sopran ia menghentak, lalu pergi menjauh.

Prolog diantara enam orang muda dalam pembagian kelamin sama rata itu berakhir begitu saja. Mereka bubar dalam ekspektasi dua, keheningan pun menyelimuti mereka. Dalam tatapan datar kisah ini dimulai, kesemuan yang ada kini menjadi nyata.



*****

Seorang gadis berjalan bak anggunnya bidadari, ia menyusuri lorong sekolah dalam langkahnya yang gemulai. Mengibaskan rambutnya, membenarkan tali tas yang memeluk tubuhnya lalu mengetuk pintu sebuah ruangan. Tidak, sepertinya ia tak ingin menodai tangannya, ia menendang pintu tersebut.

"Hai pak! Tumben sudah ada, biasanya telat," ujar wanita itu.

"Kau! Sudah terlambat tapi tak meminta maaf," bentak seorang guru.

"Emangnya salah yah? Ah, sudahlah, aku mau duduk."

"Bella! Keluar sekarang! Dasar tak punya adab!" bentaknya sambil mengepal tangan -- terlihat begitu keras.

Bella membalikkan tubuhnya dan kembali menghadap pintu, langkah pertamanya gagal karena dua orang wanita kembali datang dengan terengah-engah. Mereka menerobos diantara pintu dan Bella, sontak pertengkaran kecil terjadi lalu menyulutkan percikan amarah sang guru.

"Bella! Lia! Kalau mau bertengkar diluar saja!" usir guru bernada cukup tinggi.

Wanita yang bersama Lia tadi tampak tertunduk lesu menghindar dari persilatan lidah, ia tak diusir keluar dan justru diizinkan untuk melanjutkan pelajaran.

Elemen api yang membakar belantara hanya dengan sedikit percikannya, itulah pertengkaran Bella dan Lia. Mereka melanjutkan pertengkaran klasik antar wanita diluar kelas, hingga dua lelaki datang menghampiri dan mencoba melerai.

"Hey, jangan bertengkar!" ucap salah satu dari mereka.

"Kalian tak mendengar kata kawanku?!" yang lainnya mencoba memisahkan.

"Kalian berdua!" serempak Bella dan Lia.

Mereka menjauhi kedua lelaki itu. Dalam sela-sela langkah, mereka saling bertanya dalam hembusan sepoi yang menerpa, bukan pertanyaan biasa yang terlontar tetapi sinisme dalam riak yang menjadi-jadi. Ungkapan aku orang kaya, istilah kau pasti hanya serta merta merendahkan derajat mereka. Kesombongan.

Lonceng berbunyi, mereka masih disibukkan oleh tipu daya fana dunia, hingga akhirnya melihat dua lelaki tadi melintas dihadapan. Sepertinya dua lelaki itu memiliki satu lagi teman, disana, ya seorang yang memakai kaca mata sedang duduk membaca jendela dunia. Tampak menyenangkan, berbanding terbalik dengan percakapan iblis diantara Bella dan Lia.

"Kau sedang membaca apa, Doni?" tanya yang mengarah langsung kepada orang berkaca mata.

"Hey, Ahmad. Ini tentang kebudayaan Islam di Eropa. Eh, ada Dirga juga."

"Wow. Keren, boleh baca sama-sama?" tanya Ahmad.

"Ayo, kita baca bertiga saja. Hahaha," balasnya singkat.

Persahabatan yang indah dalam balutan bahagia, Tuhan memang selalu menghangatkan cahaya hati kala kita mengingatNya. Pemandangan itu tersekat dalam jarak pandang saja, tiba-tiba datang wanita sedang memangku buku ditangannya.

"Lia! Aku tahu kamu disini."

"Eh, Dian, gimana tadi dikelas?" jawab Lia.

Ia duduk disamping Lia dan menaruh buku disampingnya, "Biasa saja. Tak menarik dan berjalan hampa," balasnya.

"Dia temanmu, Lia?" tiba-tiba Bella bertanya.

"Iya!" kali ini Lia tersenyum.

Dua hari berlalu begitu saja dalam ketenangan jiwa diantara Doni, Ahmad dan Dirga. Lalu, Bella, Lia dan Dian? Mereka juga dalam balutan persahabatan yang saling mengenal, namun tak sehangat para lelaki. Disuatu panggung sekolah, guru menerangkan bahwa akan ada pentas seni terbesar disekolah tak lama lagi.

"Hey, kalian para lelaki tak pantas menjadi pendesain panggung," sahut Bella.

"Kenapa tidak?" balas Doni.

Bella berdiri, "Lebih baik kami saja pak," sambil menunjuk kedua temannya.

"Tidak bisa, kalian akan mengisi acara bernyanyi. Bagaimana?" tawar guru.

"Baiklah."

Hari yang terukir menjejakkan pengalaman yang berharga buat mereka sahabat wanita, mulai tersirat kesenangan bersama dalam hura-hura, kebahagiaan yang tergores dihati tampak tak akan sirna hingga sampai sehari sebelum pementasan.

Telepon genggan Bella berdering, "Bella! Ada kabar buruk!" terdengar seperti suara Lia.

"Apaan sih? Masih pagi coba. Kita janjian latihan kan jam sepuluh."

"Penting! Sekarang!" Lia tampak gugup.

"Kenapa sih?"

"Cepatlah bersiap-siap, aku menjemputmu sekarang."

Deru mesin mobil dalam kecepatan tinggi diperagakan oleh Lia kala menjemput Bella, "Kita kemana?" tanyanya polos.

"Kesini!" jawabnya singkat.

Bella terhipnotis akan keadaan dimana terlihat hiruk-pikuk orang bermuka sembab, "Kita di...?" kalimatnya terpotong.

"Ya, rumah Dian."

Bergegas dalam hati yang berdegup, Bella kembali dikejutkan dengan seseorang berselimut penuh dari ujung kaki hingga ubun kepala. Mereka mendekat sembari memastikan.

"Dian, kamu..." kembali terpotong.

Untuk pertama kalinya Bella histeris dalam tangis, Lia yang menemami berlinang air mata dalam kepedihan duka. Persahabatan yang baru terjaga kini terpecah menjadi puing-puing tak ber-asa.

Ayah Dian mendekat, "Om mengerti, kemarin tengah malam sekali Dian dan ibunya ingin membeli makan malam, mereka pergi bersama namun dirampok, saat menyandera Dian, ia secara kejam dibunuh. Mobil, uang semuanya hilang. Kalian bisa lihat disana, ibunya masih terlihat shock." ungkap sedih sang ayah sambil menunjuk kepojok ruang dimana ibu Dian tertunduk lesu.

Dihari pementasan. Doni, Ahmad dan Dirga juga mengisi acara dengan bertadarus serta bernyanyi religius, sedangkan Bella dan Lia masih dalam kelabu persahabatan. Mereka memutuskan untuk mengubah lagu, dan memilih lagu persahabatan untuk didedikasikan langsung kepada Dian. Mereka menaiki pentas, berlinang air mata lalu bernyanyi dalam melodi sendu. Untuk sahabat. Sepenuh hati.

Tamat
Sebuah kutipan dariku:

“Dinamika kehidupan memaksa kita untuk bertemu disatu titik dimana kita harus menentukan dilema, dan pilihlah yang terbaik, jika tepat, sejatinya kebaikan akan memeluk kita dalam kebahagiaan seutuhnya, lalu jika salah? Kita bisa berubah menjadi lebih baik, bukalah hati agar dapat tersentuh oleh kasih sayang Allah. Sang Pencipta selalu tahu apa yang terbaik untuk hambaNya.” 
-Basith K. Adji-


(Ekspektasi Dalam Dua karya Basith K. Adji)
Dilarang menyebarluaskan cerpen ini tanpa izin penulis.

Bagikan Artikel di:

30 komentar:

  1. sahabat sahabat sahabat, gatau kenapa aku selalu sedih denger kata ini T.T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi~ #freepukpuk buat funy xD

      Hapus
  2. kenapa harus ada ironi diantara satu kata indah: SAHABAT?

    cie messo-sopran, bass, cie sepertinya kau tahu sekali tentang pembagian suara bang #plak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebab itulah hidup bang :) Berdinamka layaknya warna :D hahaha, kalo bang daka mah tahunya solo, duo gitu dah ^_^ kita kolaborasi aja dah :p

      Hapus
  3. wihhh.... tepuk tangan buat basith ^^ keren bahasanya

    BalasHapus
  4. ketika sahabat pergi, akan beda rasanya. mereka seperti keluarga kedua, keluarga yang kita pilih. kenangan sama sahabat itu gak akan bisa terulang. meskipun kita punya sahabat baru, akan terasa beda semuanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar banget senny *tepuk tangan*

      Hapus
  5. sisi lain seorang Basith?
    btw, kamu cerdas dalam setiap pemilihan mu.... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya ini fiksi hehehe :D Makasih yoow :D

      Hapus
  6. jadi ge-er.. di rumah dan kalangan sd-smp kan gue dipanggil 'bella' -____-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Muahuahua~ kenapa gak dipanggil suci aja x_x

      Hapus
  7. kenapa ada kata "sahabat" walaupun endingnya bakal ada "perpisahan" ? jawab sist :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begini nek :)

      Dalam cerpen ini merefleksikan 2 kemungkinan dalam persahabatan, ada yang dalam keteduhan (religius), ada juga yang hura2 seperti kehidupan remaja sekarang (Yang aku perhatikan seperti itu).. Mau seperti apapun persahabatan itu pasti sangatlah indah, betul kan? karena cara orang bersosial juga beda tergantung bagaimana lingkungan mempengaruhi..
      Disini ada perpisahan, itu aku ambil dari kutipan "ada perjumpaan, pasti ada perpisahan", dalam persahabatan juga begitu, disini tokohnya aku buat meninggal agar mewujudkan keinginanku bahwa persahabatan itu akan tetap terukir dalam hati walau ia yang sudah tiada, bahkan dengan persahabatan bisa membuat orang jadi lebih baik dalam bertindak.. gimana menurutmu? ^_^

      Hapus
  8. bang basiiiiitt !! cerpennya.... keceeeeeeeeee !!!
    tiap koemn aku selalu bilang kece. itu doang. ga ada kata2 lain. speechless mulu sih. emang kenyataan cerpennya kece. gatau mau ngomong apalagi :p

    tapi yg ini bikin ketawa --> "Prolog diantara enam pemuda daam pembagian kelamin sama rata berakhir begitu saja" muahahahhaa xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi makasih banyak dika ^_^ Oh itu, hahaha itu maksudnya prolog diantara 6 pemuda/i, karena pembagian kelamin sama rata, maksudnya 3 cowok dan 3 cewek... itu ketahuan kok dari pembagian wliayah suaranya, ada sopran, alto dll ^_^ hehehe~

      Hapus
  9. siiiip bangeet dah cerpennyaaaa. laik this :)

    BalasHapus
  10. pemilihan katanya pas. kereen ceritanya :DDDD

    BalasHapus
  11. produktif selalu mas.. semangat..

    BalasHapus
  12. Imaginasi kamu memang luar biasa basith... salut.. ^_^

    BalasHapus
  13. bagus bang, kata perkata nya berbobot banget. cocok buat jadi penulis

    #sotoy

    BalasHapus
  14. persahabatan sekarang sulit nyari yang murni karena cinta kasih, pasti ada tendensinya. semoga basith menjadi sahabat buat sahabatnya yang mengerti dan penuh cinta kasih. #cie cie

    BalasHapus
  15. Jujur,gw kalo baca tlisan2 lo kata2nya bagus2 banget.Cerdas banget.Ini mah beneran calon penulis hebat.

    BTW,ajarin gw dong

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih :) ajarin lewat mana --"

      Hapus

Komentar tidak melalui seleksi apapun. Jadi, ayo berkomentar! Tapi yang beretika yah. Terima kasih untuk tidak jadi Spammer. ^_^

newer posts older posts back home