Monolog: Kisah Putih Ombak Pilu Bukan Halangan Yang Tak Dianggap Tawamu Yang Terakhir

Jumat, 13 Januari 2012

Underdog Bagian 3

Underdog: Kecewa
Ayo, baca sebelumnya:
[Underdog Bagian 1]
[Underdog Bagian 2]

Rambut hitam yang mengurai panjang dengan hiasan pita merah muda diatasnya, ia masih dalam balutan seragam sekolah. Terduduk diatas ilalang sambil melihat langit yang membiru, menggantungkan kaki dengan tangan menyanggah beban tubuh -- persis ketika kami pertama kali bertemu. Ini lukisan yang teramat indah dan penuh makna namun sayang belum sempurna. Rupa wajahnya terlalu abstrak dibenakku dan aku tak tahu bagaimana melukisnya. Aku harus melihat senyumannya. Lagi. Ya, sejak dibawah pohon waktu itu hingga sekarang -- sudah dua hari -- lukisan ini tak kunjung usai. Aku belum menemuinya. Ia sakit?

Aku menelusur dilorong sekolah sambil menggenggam balutan ransel. Tetap menunduk. Tujuanku sebenarnya hanyalah kelas Dewi. Aku berjalan sambil menyeret langkahku. Setengah sadar dalam bayang-bayang ketakutan. Aku takut untuk menghampirinya.

Sungguh lorong yang panjang, sudah cukup menghadirkan dimensi semu dalam bayanganku terhadap Dewi. Aku hanya ingin melihatnya sekali saja untuk hari ini. Aku rindu senyumannya yang pernah beberapa kali ditujukan kepadaku. Aku rindu itu.


"Ini kelasnya Dewi, bukan?" tanyaku pada seseorang yang berdiri tepat dipintu kelas Dewi.

"Iya. Kenapa?"

"Dewinya masuk sekolah hari ini?" tanyaku lirih.

"Ia sedang berada dirumah sakit." jawabnya singkat.

Walau tebakanku benar, tetap saja batinku terhenyak. Ia sakit? Dirumah sakit? Aku benar-benar terkejut mendengar pernyataan juteknya tersebut. Dengan cepat aku mengambil sepucuk kertas dan sebuah pulpel lalu menyodorkannya, "Boleh saya minta alamat rumah sakit beserta nomor kamarnya?" pintaku sambil menunduk. Ia juga dengan sergap menangkap pemberianku, menulisnya lalu meletakkannya dilantai begitu saja. Ia akhirnya pergi entah kemana. Aku memungut kertas berharga itu. "Aku akan menjenguknya nanti sore," batinku yakin.

*****
Sesampainya dirumah aku langsung menyibukkan diri mengambil barang dari kulkas. Buah. Aku berkeliaran kesana-kemari hingga akhirnya mengundang perhatian ibuku.

"Hey, john, kenapa kamu habiskan semua buah didalam kulkas?" tanya ibuku sigap.

"Temanku sedang sakit, ma." aku tersenyum malu.

"Semuanya mau kamu berikan?"

"Iya. Aku pergi dulu sebentar yah. Dadah mama." aku menyingkat pembicaraan.

Jalan Irian nomor sembilan, itulah alamat rumah sakit yang ditulis oleh temannya Dewi. Aku kembali terkejut ketika sampai disana. Aku menyangka ini adalah sebuah hotel bintang lima. Didepan pintu masuk saja sudah terparkir sebuah mobil mewah, aku tak tahu merknya apa, yang jelas berwarna hitam gelap, mengkilap dengan panjang sekitar 4 meter.

Aku memberanikan diri mendekati pintu masuk, disana ada dua penjagal berbaju biru tua berhiaskan tongkat besar dibagian pinggulnya. Mereka mendekatiku.

"Buahnya letakkin disini, dek. Lalu kamu lewat sini yah." pinta salah seorang dari mereka dengan ramah.

"Baiklah pak."

TIIITT?!! terdengar seperti suara kaset rusak atau mungkin bunyi ambulans. Tidak. Bukan keduanya.

"Apa yang kamu bawa dibalik bajumu?!" keempat mata mereka melotot tajam.

"Tidak ada. Aku bukan teroris." aku histeris sambil menutup mata. Mereka hanya tertawa.

"Hahaha. Kamu bawa HP, dek? Hahaha." tanya keduanya serempak.

"Iya." jawabku polos.

"Nah. Letakkan HPmu disini, lalu coba lagi masuk." aku mengikuti perintahnya dan lolos. Ya, tidak terdengar lagi suara aneh yang mendecit. Aku melihat mereka dan mereka berdua tersenyum.

Langsung saja aku mengambil semua barangku dan berlari menuju resepsionis. Bertanya dengan begitu semangat seakan segala rasa takutku telah pudar. Ya, aku ingin mengetahui dimana Dewi sekarang.

"Mbak, ada pasien yang namanya Dewi? Umurnya 16 tahun dengan fisik rambut hitam panjang, tinggi sekitar 160 cm." tanyaku penasaran.

"Sebentar. Kamu siapanya dia?" tanyanya sambil mengutak-atik komputer.

"Teman sekolahnya mbak." lanjutku.

"Uhm... Maaf. Ia siang tadi baru saja pulang."

Semangatku sekejap menghilang seakan nyawaku tercabut sesaat. Aku sungguh kecewa mendengarnya, "Baiklah mbak," jawabku sambil melihat jam dilengan kiriku. Sekarang senja menjemput malam, aku berbalik badan dan kembali dalam kelam. Buah yang lezat aku berikan kepada kedua penjagal rumah sakit saja lalu aku menyeret langkahku. Lagi. Andaikan aku bertemu dengannya hari ini.


Sebuah kekecewaan tiba disaat kita selalu berharap dalam porsi berlebihan. Apa yang akan terjadi selanjutnya?



Bagikan Artikel di:

19 komentar:

  1. selalu bikin penasaran --" lanjuuuuuuuuuuut

    BalasHapus
  2. dan cuplikan episode berikutnya belum ngasih gambaran apa-apa buat saya bang -_- hebaat!! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduuh bang daka, aku jadi terharu :3

      Hapus
  3. bagus uncleee :3 suruh si dog temenan sama kita ajaa :p

    BalasHapus
  4. Ah, si dewi pake cepet sembuh lagi -__-
    kasian john :((

    BalasHapus
  5. waah, sayang banget dewinya mau ditengokin malah udah pulang..
    :(

    BalasHapus
  6. keren sob ceritanya, hhe ..
    salam kenal ..
    kalo ada waktu singgah ke blog saya ..
    coment and follow ..
    http://peluru-tajam.blogspot.com/

    BalasHapus
  7. yah dewi sudah pulang....ga jadi berduaan di rumah sakit deh :D

    BalasHapus
  8. wah lagi seru baca eh bersambung, lumayanlah satpamnya dapet buah #eh

    Ditunggu kelanjutannya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha yg beruntung si satpam deh jadinya xD oke ;)

      Hapus
  9. Eh udah ada yang bagian keempat kan. Lanjuttt

    BalasHapus
  10. Bagian pas si tokoh utama pamit ke mamanya itu terkesan kaku, Bas... Kenapa nggak: "Dah, Ma." Itu lebih enak... Hahaha... Tapi mungkin disengaja kali yah. Soalnya karakter si tokoh utama agak kaku sih.... Hahaha

    BalasHapus

Komentar tidak melalui seleksi apapun. Jadi, ayo berkomentar! Tapi yang beretika yah. Terima kasih untuk tidak jadi Spammer. ^_^

newer posts older posts back home