Monolog: Kisah Putih Ombak Pilu Bukan Halangan Yang Tak Dianggap Tawamu Yang Terakhir

Senin, 06 Februari 2012

Aku Juga Bahagia...

Intuisiku menggerakkan jasad yang terbelenggu, mengingatkan sejarah kedigdayaan pahlawanku. Ia yang memiliki derajat diatas segala umat. Seorang lelaki yang menaklukkan dunia atas izin maha Kuasa. Aku juga lelaki dan aku mencintainya. Terdengar aneh memang, namun sejatinya orientasiku normal. Wajahnya yang menyembulkan cahaya, aku tak pernah melihatnya. Atau sekedar mendengar dakwahnya langsung? Sekalipun tak ada. Ia Rasulullah.

Disini. Korneaku menyerap refleksi cahaya, lalu memprosesnya dalam kognitif dibalik tengkorakku. Hiruk pikuk? Persis. Aku dapat melihat karnaval yang dibaluti tawa antar sesama. Sangat jelas. Namun disana, sepasang mata berbinar memancarkan sendu yang menyentuh hatiku. Aku melangkah mendekatinya dalam perasaan ganjil.


"Hai!" sapaku ringan.

Ia menoleh kehadapanku sembari mengelap matanya, "Oh, halo!" balasnya dengan senyum.

"Kau menangis?"

Ia hanya membalasku dengan tawa ringan, "Aku bahagia," lanjutnya kembali meneteskan air mata.

Ia pasti berbohong. Aku melihat kesenjangan pada dimensi yang sama, hanya terpisahkan beberapa langkah kaki. Aku tak bisa mempercayai perkataannya. Striatum sentral yang kumiliki telah melakukan tugasnya, ia telah memberikanku cukup waktu untuk rasional.

"Kesenjangan ini begitu kontras. Tapi, mengapa kau bahagia?" tanyaku melawan logika.

Ia terdiam sejenak, mungkin menenggak beberapa ucapan tajamku, ya sepertinya ia sedang mencernanya. Ia hanya tersenyum, lalu jemarinya menunjuk tegas kearah timur, "Kau melihatnya? Disana!" ujarnya.

Aku mengangguk, "Ya!"

"Itu ibuku sedang bersama adikku. Aku bahagia melihatnya."

"Mereka hanya duduk dan mengemis! Mengapa kau bahagia?" balasku bingung.

"Karena kami akan makan nikmat hari ini. Karnaval ini membawa berkah!"

Hanya sebatas itukah stigmanya akan kehidupan? Miris. Aku memang bukanlah seorang maha kaya yang menghambur-hamburkan uang untuk kenikmatan sementara. Aku hanyalah aku. Seorang yang bernasib sedikit lebih beruntung darinya.

"Jika kau berfikir begitu. Panggil ibumu kesini. Kita makan yang nikmat bersama," ajakku.

Raut wajahnya terkejut, "Maksudmu?" balasnya.

"Serius. Ayo kita makan bersama."

Ia berlari mengajak ibunya dengan raut gembira. Kami makan disebuah warung kecil yang aku rasa cukup mewah bagi mereka. Batinku tersenyum. Aku melihat lahapnya, serta mendengar jeritan bahagia. Syukurlah, aku masih bisa berbagi untuk sesama. Hingga senja menjemput malam, kami berpisah dalam senyuman yang dalam. Aku juga bahagia.

Rasulullah pernah memberikan makanannya
pada seseorang yang kurang beruntung, 
walaupun sejatinya beliau juga lapar.

Selamat memperingati Maulid Nabi! ^_^

(Aku Juga Bahagia karya Basith K. Adji)
Dilarang menyebarluaskan cerpen ini tanpa izin penulis.


Bagikan Artikel di:

32 komentar:

  1. Sebaik-baiknya manusia, ialah yang bermanfaat bagi orang lain. ingat ya cith.. hehe

    Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. semoga semakin bisa mengerti maknanya dan mengimplementasikannya. Amin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Naaah! bener pun :'> hehehe Amiinn ^_^

      Hapus
  2. bahasanya keren...jadi kangen nulis lagi :)

    btw, maulid di jerman gimana ya? o.o

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih bang :D Maulid disini benar2 sepi >.< hehehe

      Hapus
  3. bener-bener USWATUN KHASANAH

    BalasHapus
  4. Sederhana, tapi dalem banget karena ada sosok Raslullah menjelma sebagai si 'aku'. Yang baca juga ikutan bahagia jadinya. Love this one!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baguslah kalo suka kaka~ hihihi

      Hapus
  5. wah kalimatnya indah....
    mampir ke blogku ya
    :)

    BalasHapus
  6. baaaaaaaang gw terharu tadi pagi baca di hape...

    bikin gw makin bergetar..

    #kenapa sih gw harus curcol di blog orang mulu =D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahahaha :)) aku pendengar yg baik abaang *elus2 rambut kamu*

      Hapus
  7. sebaik-baiknya makhluk adalah ia yang perduli terhadap orang lain..

    BalasHapus
  8. bang , disana acara maulud-an nya gimana ? :) semoga kita selalu bisa menjadi umatnya yang selalu menekuni suri tauladannya :D ^^9

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiiiin :D disini maulud-annya bener2 sepi, gak ada perayaan yg wah seperti di Indonesia hehehe :D

      Hapus
    2. makanya , balik Indonesia bang :p ayo KOPDAAR ;))

      Hapus
    3. hahahaha :)) ayooo ayooo #plak

      Hapus
  9. aduh basith, jago nulis euy. btw tulisannya dilindungi udang ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih ka pin :) Hahaha dilindungi hatiku #apadeh #plak :p

      Hapus
  10. bagus banget :') selamat memperingati maulid nabi Muhammad SAW, our Idol :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih :D Ya! selamat memperingati maulid Rasulullah! :D

      Hapus
  11. Wah.. selamat memperingati hari Maulid Nabi ya Shit, eh sith..
    :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. ah dasar kamu hehehe :p iya, selamat memperingati maulid Rasulullah yah ^_^

      Hapus
  12. cumcum makin jago aja nulisnya :)
    btw terharu deh bacanya :')

    semoga semakin lama, manusia bisa selalu peduli terhadap nasib dan kehidupan orang lain :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, makasih nekmut ^_^ yap! setuju :D

      Hapus
  13. diksi dan makna yang selalu menggugah. karya yang inspiratif :)

    BalasHapus
  14. gila bang basith, sori sepertinya dulu pernah mau ijin follow tapi kelupaan :). sekarang udah berhasil ane follow :).

    ih bahasanya keren bang, apalagi sambil ndengerin instrumennya serasa nyatu dah, keren keren.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduh, aku masih waras bang :p hahaha Makasih yah ^_^

      Hapus

Komentar tidak melalui seleksi apapun. Jadi, ayo berkomentar! Tapi yang beretika yah. Terima kasih untuk tidak jadi Spammer. ^_^

newer posts older posts back home