Monolog: Kisah Putih Ombak Pilu Bukan Halangan Yang Tak Dianggap Tawamu Yang Terakhir

Sabtu, 31 Desember 2011

Bidadari Kancut Bagian 5

Sub Judul: Kejutan dari
Andi!
Ayo, baca cerita sebelumnya:

Hari yang baru. Hari ini aku bersemangat untuk bertemu Bidadari Kancutku yang begitu sehat. Begitu bahenol. Hingga ingin kusenggol. Tidak pakai pinggul karena aku tak berani. Tapi menggunakan hati. Eeeaaa, hatiku tertawa geli.

"Ricky, aku ada berita baik!" Andi melompat kebahuku dilorong sekolah. Berat sekali.

"Tentang Aura?" tanyaku kegirangan hampir terpeleset.

"Bukan. Tentang aku dong, kau pikirannya Aura melulu sih." ia tersenyum.

Aku bingung. Tak biasanya Andi seperti ini. Ia seperti orang kesurupan dengan mata terbelalak dan air liur menetes. Bukan. Ia lebih seperti anjing yang menunggu perintah tuannya. Atau mungkin seperti gorilla yang menggaruk-garuk pantatnya. Aku jadi terbawa suasana menggaruk pantat dan diam terpana. Gila. Pikiranku melanglang buana.

"Apaan sih? Seneng amat kau." aku membetulkan tas.

"Aku jatuh cinta dan ia sudah menjadi milikku." ia mengedipkan matanya.

Ambigu. Aku bukan orang yang lugu. Jangan sampai orang itu. Aura. Jangan sampai. Aku bukan orang yang lalai. Tak mungkin orang segendut Andi bisa mendapatkan hati Aura. Tak mungkin. Aku tak ingin hatiku miskin.

"Tau Tirani kan? Ituloh yang agak-agak gendut manis. Kami udah jadian. Hehehe" jelasnya gamblang.

Tirani. Wanita itu. Betul, disaat aku dan Aura bersama-sama ke kantin namun tak jadi. Tidak mungkin. Aku sudah didahului oleh sahabatku. Ya Tuhan, apa salahku hingga ini bisa terjadi. Dua sejoli bersatu, ini sebuah tragedi. Aku merasa berdosa tak bisa mencarikan jodoh untuk Andi.

Jumat, 30 Desember 2011

Bidadari Kancut Bagian 4

Sub Judul: Semakin
dekat!
Ayo, baca cerita sebelumnya:
[Bidadari Kancut Bag. 3]

Menuju kantin. Tetap saja Aura ku pelototin. Mataku terbelalak, hatiku bergejolak. Tapi, tunggu dulu. Andi tampaknya melakukan sesuatu dikejauhan. Di pojok kantin. Disana. Ia bersama seorang wanita. Segendut Andi. Mereka terlihat seperti dua bola raksasa yang memantul bersama. Sungguh mengundang tawa.

"Aura, kita kemana? Kantinnya disana." tanyaku sambil menunjuk kantin.

"Oh, iya. Kita ke taman sekolah aja." ia memalingkan muka lalu tersenyum.

Belum sampai kesana, aku merana. Lonceng berbunyi dan sekolah mulai sunyi. Pelajar belajar, guru mengajar. Kami kembali ke kelas masing-masing. Berlari. Ya, kami berlari bersama. Tapi tetap saja aku berada dibelakangnya. Aku merasa benar-benar babu untuknya. Hingga tengah hari pun sekolah benar-benar membosankan. Ditengah-tengah pelajaran, masih saja Aura kupikirkan. Bersama warna kancutnya. Aaah.. tidak mungkin merah. Konsentrasiku terbelah dan menunduk melihat sebelah. Andi duduk sebangku denganku.

"Eh, aku mau ke WC nih." aku berbisik.

Andi tiba-tiba berdiri lalu berteriak."Kenapa bilang ke aku, yaudah sana pergi, jangan bilang kau mau sama-sama ke WC denganku." serunya.

Semua tertawa terbahak-bahak, hatiku merasa sesak. Andi!, bentakku dalam hati. Aku berdiri dan langsung lari. Namun seketika berhenti, didepan kelas pujaan hati. Sang Bidadari. Sedikit mengintip namun tak kelihatan, ah persetan. Aku melompat dan aku dapat melihat. Begitu cepat. Kenikmatan itu belum saja sempat. Huh.. Sudahlah. Aku mulai pasrah.

Kamis, 29 Desember 2011

Bidadari Kancut Bagian 3


Sub Judul:
Aku pemberani!
Ayo, baca cerita sebelumnya:
[Bidadari Kancut Bag. 1]
[Bidadari Kancut Bag. 2]

Kaki kulangkah, aku tak serakah. Aku tak ingin melakukan kesalahan, ku berjalan perlahan. Sambil membetulkan kerah baju, aku maju. Perasaan terasa bercampur aduk, bagaikan ayam dimimpiku tadi mematuk. Aku bisa, ya aku memang perkasa.

"Aura..." sapaku sedikit malu.

"Iya, ada apa yah?" tanyanya tersenyum lembut.

"Hem.. anu.. hem.. anu.." aku begitu gugup.

"Anu? anu siapa?" ia terlihat begitu polos.

Mati aku, seruku dalam hati. Tak mungkin aku bilang anuku, apalagi anunya. Jangankan kaki, tanganpun bisa menjadi hadiah darinya. Aku takut. Aku bingung harus menjawab. Aku sungguh tak siap. Bantuan. Ya aku perlu. Tidaaak, kepalaku serasa diketuk palu. Walau ini kenginanku, tapi aku merasa kaku.

"Kamu kenal aku gak?" tanyaku sambil menggaruk-garuk kepala.

"Siapa yah? Aku gak kenal tuh. Hehe." ia menjawab sambil membetulkan poninya.

newer posts older posts back home