Monolog: Kisah Putih Ombak Pilu Bukan Halangan Yang Tak Dianggap Tawamu Yang Terakhir

Jumat, 24 Februari 2012

Berani Mengkhianati Tuhan?

Menatap dingin bara api di neraka; sebuah sikap dalam amarah. Rasa yang membuncah seakan memukul riuh hening malam. Aku diam, hanya merasa diantara kelam tanpa harapan. Mungkin saja ini sebuah ratapan yang tak kunjung usai, atau bahkan kejutan dari pencipta. Entahlah. Ungkapan ini yang membuat diriku menetap diam, lalu menyelam dalam. Berbagai stigma terus kutelaah, namun hanya nihil yang kujumpa. Buntu.

"Pantaskah aku hidup?" teriakku tanpa sasaran.

Badanku lunglai, menyeret langkah diantara coklatnya tanah tanpa cahaya, "Lalu, untuk apa hidupku ini?" lanjutku.

Aku memiliki tujuan hidup. Benar, setitik asa dalam jutaan yang membelenggunya. Walaupun aku merasakan hampa, menyendiri yang tak mendua, itulah harapku. Tuhan? Ialah zat yang menjadikan langkahku tegar diantara kepingan hina. "Ia ada. Namun, dimana?" monolog abstrakku masih berlanjut, "Mereka bilang disini, namun aku masih meratap sepi. Adakah aku kurang sesuatu? Aku telah menyembahMu tak mengenal waktu, tasbihku melantun diantara isak tangis ini. Masihkah itu kurang?" tanyaku.

Minggu, 19 Februari 2012

Pasangan Hidung Mekar

Laugh.
Aku laksana memandang mawar, namun ia hanyalah melati berhidung mekar. Indah, mataku terperanjat dengan sosok hidung yang merefleksikan cahaya. Bagaikan rembulan mungil yang menjelma dalam sosok bidadari. Sungguh menggelikan kala aku menatapnya, menghadirkan tawa yang menggelitik ketiak basahku. Terdengar berlebihan memang, namun ini sejati.

Aku tertawa ringan, "Bulu hidungnya seakan bersembunyi dibalik goa raksasa," candaku dalam hati.

"Hey, kenapa kau tertawa?" ia merespon sembari menepuk bahuku.

"Oh, uhm, tidak," balasku dengan senyum.

Aku tidak berdusta. Aku hanya menyembunyikan rasa yang membuncah dalam sanubari. Kami menapak dipelataran hijau untuk menghirup sepoi segar. Disini, kami saling bersenggama tangan. Menggoyangkannya beriringan langkah kami yang perlahan. Sungguh senja yang tak menunjukkan kegelisahannya.

Kami mendapati sebuah bangku yang tak berpenghuni, dibawah pohon rindang, "Kau tak lelah?" tanyaku menatap matanya. Aku menahan tawa, tatap mataku tak bisa fokus menembus irisnya. Hidung? Ya, sosok yang mengalihkan duniaku.

"Sangat. Aku sangat lelah." ungkapnya.

"Benarkah?"

"Aku lelah menahan gejolak perut ini. Melilit." jawabnya polos.

Jumat, 17 Februari 2012

Sunset Girl

Entah kesambet artis hollywood mana jemari jahil gue mulai beraksi hari ini, bukan untuk melakukan yang begituan melainkan yang beginian. Hohoho. *ditabok masa* Oke! Nggak seperti belakangan ini yang isinya sastra, kali ini bener-bener beda, gue gambar sesuatu. Hehehe. Emangnya Basith bisa gambar? Coba aja lihat. Bagus apa nggaknya, kasih komentar aja yah.

Sebenarnya gue juga gak tahu apa yang gue gambar, awalnya gue coret-coret gak jelas, tapi malah lebih kelihatan seperti arsiran rambut. Semakin gue coret, semakin ada sesuatu yang aneh. Cewek? Yap! Bener banget, mirip banget rambut cewek. Akhirnya dengan segenap kekuatan yang tersisa gue hajar cewek itu diatas ranjang. #eh Jangan negatif dulu dong. Maksudnya gue gambar diatas tempat tidur. Muahuahua -__-


Nah! gambar yang ada dikertas gue jepret, lalu buat artline dan mewarnainya di Paint Tool SAI. Untuk shading gue sepertinya belum profesional. Toh, ini coba-coba tak berhadiah. Dan, ternyata hasilnya... #isisendiri. Hahaha.  Penasaran? Klik "Baca selanjutnya".

Kamis, 16 Februari 2012

Monolog: Rahasia Pangeran Kodok

Ia meratapi setiap aksara dalam heningnya masa, memendam asa kala senja melepas pesonanya. Jamah jemari yang lembut bagaikan gelombang lautan lupa akan tepiannya. Sejukpun menjelma dalam bujur kaku. Sementara, biarlah ini mengalir tanpa tanda saat hati dirasa beku. Ia meredam dalam bibir yang menyembunyikan pandangan tabu. Rahasia.

Semua terlambat. Kini aku menatap bintang, bersamamu dan aku t'lah tahu. Rasa yang membuncah tak dapat menipuku. Abstrak, tetap saja aku masih ragu. Setiap lantunan kata yang kuucap terkesan lugu. Andai aku bersandiwara tak mencintaimu, apakah itu pilu?

Jika kau masih mencandu, kuharap bukanlah sendu. Aku hanya bungkam, tetap mengharap walau tak bercakap. Entahlah, aku berdebar hebat dalam diam seraya menahan hasrat malam. Mungkin kau menginterpretasikannya tak sama, namun inilah aku dengan untaian penuh makna.

Pangeran kodok,
seperti dongeng yang nyata :p


(Rahasia Pangeran Kodok karya Basith K. Adji)
Dilarang menyebarluaskan Flash Fiction ini tanpa izin penulis.

Selasa, 14 Februari 2012

Bintang Menjadi Bulan?

Aku memilikinya. Ia hadir kala mentari menjemput senja, beriring rembulan yang merefleksikan beningnya warna. Terpesona, mungkin saja aku terbelenggu akan waktu atau hanya sesaat melupakan pilu. Aku menatapnya. Cahaya kebiruan yang berpadu merah kala menembus irisku, indah. Frasa lembut yang terlontar spontan atas ketulusan. Tepat. Aku membohongi dusta.

Aku terbaring beralaskan ilalang, jemariku mencoba meraih cakrawala, "Bintang, mereka seperti namamu," ujarku tersenyum.

"Aku melihatnya," balasnya datar.

Simfoni jangkrik memecah kesunyian malam, mereka menghadirkan nuansa teduh sejenak setelah Bintang menggerakkan pita suaranya. Sejuk, inilah yang kurasa. Udara jua seakan terengah-engah ketika menelusuri jasadku. Kehangatan kejora hanyalah hampa, tiada rasa dalam balutan asa, hanya kau yang berbeda. Begitulah.

Ia ikut mengangkat jemarinya, mengarahkannya ke tenggara, "Coba lihat disana! Rembulan sedang sendiri," lanjutnya.

Minggu, 12 Februari 2012

Lebah Yang Tak Me"madu" Cinta

Lebah dan "madu"
Jeritan yang diiringi tangis suci. Aku hanya menyaksikan tawa diantara mereka. Sebuah rasa yang membuat lidah tak berdaya, namun indah pada hakikatnya. Kehangatan, sebuah frasa tanpa penjelasan. Aku bungkam seketika dalam dekapan. Mereka yang lembut membelai dalam ketulusan adalah kebahagiaan setelah dinamika sembilan bulan. Ya, kelima indraku merasakan perbedaan dimensi -- aku lahir.

Entahlah. Itu hanya sekelumit awal kehidupan. Dua insan yang mengikat ikrar abadi untuk sebuah ekspektasi. Seakan lima samudra masih tak cukup luas merefleksikan cinta. Aku sadar. Aku tak bisa mengulang masa, tak pula melangkahinya. Hingga kini aku belum membalas cinta mereka seutuhnya. Tak bisa, mungkin tak akan pernah.

Aku berlutut dihadapan mereka, "Ayah... Ibu..." ujarku.

"Hari ini. Aku akan menjadi lebah yang melayani ratu dengan bijaksana, memberikannya madu penuh cinta.  Seperti kalian yang saling berbagi tawa. Dari sini, restu kalianlah yang menyertaiku, doa kalian yang menopang bahuku. Aku berjanji tak akan me"madu"kan cinta. Karena aku lebah yang tulus mencinta."

*****
Bukankah cinta yang direstui lebih indah 
dibandingkan cinta terlarang? ^_^

(Lebah Yang Tak Memadu Cinta karya Basith K. Adji)
Dilarang menyebarluaskan Flash Fiction ini tanpa izin penulis.

Sabtu, 11 Februari 2012

Ketika Jomblo Berfantasi

Fantasi!
Aku tersentuh pada titik terdalam berhiaskan tetes sendu. Batinku tidaklah sayu. Aku hanya tersenyum sejenak dalam bayang semu. Ia yang melantunkan irama dalam frase lembut. Memiliki anatomi yang sempurna bagiku. Anggun. Ekspektasiku sungguh besar dalam diam. Aku tak bisa menyiasati hati, mungkin ini sebuah resonansi. Dari engkau yang mengalunkan nada rindu, memapak dalam harmoni syahdu.

Ini hanyalah semu dalam nyata, namun ini nyata dalam semu. Aku dapat terbang tanpa sayap, memeluk dan mendekap erat. Membelai indah pesonanya, serta menapaki gemulai suasana senja. Entahlah. Aku pun bisa hilang kendali.

Aku merasakannya. Bayangan yang terus pudar seiring mentari pagi merangkak ke barat. Perlahan namun pasti aku berada diantara dua dimensi. Isyarat tanpa pakem, abstrak yang tak mengenal waktu. Tak logis.

Ia hilang. Fluktuasi cinta berlari menjauhiku, "Ini memang tak nyata!" diksi frontal membentak sunyi. Ini sebuah fantasi.

*****
(Fantasi karya Basith K. Adji)
Dilarang menyebarluaskan Flash Fiction ini tanpa izin penulis.

Rabu, 08 Februari 2012

Voli di Stollberg

Besok, atau bisa dikatakan hari ini di Indonesia, gue bakalan lomba voli di kota Stollberg. Kalau di Indonesia mungkin lomba ini setingkat hampir provinsi. Sebelumnya alhamdulillah juara hingga tingkat Regional dan Mittelsachsen. Penasaran siapa sih yang satu tim dengan gue hingga bisa menang? Nah, semuanya bule, termasuk gue walaupun seorang bule abal-abal. Muahuahua~ Makanya lihat juga postingan terdahulunya, uhm, bisa kalian lihat disini dan disini.

"Jangan berandai dalam salah, jikalau tak ingin kalah. Semua itu mungkin, maka jangan membiarkan hati terlantar miskin." -Basith K. Adji

Wish me luck yaaah! ^_^

Selasa, 07 Februari 2012

Mekar Dalam Gugur

"Mekar dalam gugur"
Picture taken with Kodak EasyShare M320 edited by MO Picture Manager

Oranye yang menguning menyusup kontras menyentuh korneaku. Sungguh, ini teramat jelas bagiku. Batin mereka mengalun seirama sepoi merdu, melihat buyar pada dinamika warna monoton, namun tatapku terpaku akan mekar dalam syahdu. Ia berbeda. Sebuah eksotika yang terekam dalam sanubari. Mekar  mentari mungil yang memamerkan kelopaknya. Ia lebih indah dari yang mereka lihat, karena ia mekar dalam gugur.

Eksotika akan selalu dikenang masa,
keindahannya, semua hal tentangnya,
jadilah orang yang pantas untuk dikenang!

PS: Foto ini diambil bulan Oktober tahun lalu, disaat musim gugur. ^_^

Senin, 06 Februari 2012

Aku Juga Bahagia...

Intuisiku menggerakkan jasad yang terbelenggu, mengingatkan sejarah kedigdayaan pahlawanku. Ia yang memiliki derajat diatas segala umat. Seorang lelaki yang menaklukkan dunia atas izin maha Kuasa. Aku juga lelaki dan aku mencintainya. Terdengar aneh memang, namun sejatinya orientasiku normal. Wajahnya yang menyembulkan cahaya, aku tak pernah melihatnya. Atau sekedar mendengar dakwahnya langsung? Sekalipun tak ada. Ia Rasulullah.

Disini. Korneaku menyerap refleksi cahaya, lalu memprosesnya dalam kognitif dibalik tengkorakku. Hiruk pikuk? Persis. Aku dapat melihat karnaval yang dibaluti tawa antar sesama. Sangat jelas. Namun disana, sepasang mata berbinar memancarkan sendu yang menyentuh hatiku. Aku melangkah mendekatinya dalam perasaan ganjil.

Sabtu, 04 Februari 2012

Kau Seakan Memperkosa Diriku

Bayangku di antara senyum dua warna dari yang tercinta. Hidup pada dimensi yang sama dan mereka adalah hawa. Dua yang sama namun berbeda. Paradigma, itulah yang beraneka. Ya, salah satu dari mereka mempertimbangkan setiap lisan kata, mengalunkannya merdu dalam irama hingga aku terpaku dalam diam. Terkadang ia juga menarikku perlahan dari jurang kelam. Ia adalah ibuku. Seorang dengan rambut hitam sepanjang bahu, beriris kecoklatan dengan tinggi tubuh sedang. Ia indah bagiku.

Aku mencintainya, setara. Aku membagi kalbuku sama rata terhadap dilema. Diantara ibu dan dia. Bidadari, ya aku mungkin telah mendapatinya. Bukan, ia telah dalam dekapan. Wanita tanpa sayap yang berparadigma sebanding denganku, labil. Tanpa alasan mendasar aku juga merasakan kasihnya. Aksi reaksi yang saling setimpal membaluti cinta kami tanpa iba. Itulah yang kurasakan, kekasih. Aku menemukan kesamaan anomali jasad diantara mereka berdua, hanya kerut wajah yang tertanda. Sepertinya ia refleksi masa dimana ibuku muda. Mungkin.

Jumat, 03 Februari 2012

Kabisat! Coba tebak...

Suci. Hanyalah kesejatian sebuah tafsir nama. Dari seorang dewa, untuk dikenang masa. Ia yang memiliki kabisat tiap setengah windu. Kalender Gregorius juga menyerap kata tersebut. Berpuluh abad lalu mereka menyembahnya, konon mereka juga merayakan ritual upacara. Penyucian, begitu mereka mengatakannya.

Mereka juga mengucapkan ini tanpa sendu. Sesuatu yang memiliki romantisme yang adil bagi segelintir. Sekarang identik dengan cinta, sebuah coklat manis menawar manja. Kali ini aku menemukan dua hal berbeda dalam untaian kata.

"Ada dua?" tanya seseorang.

"Ya! Tebaklah!"

*****

Ada dua kata, coba kalian tebak teka-teki buatanku ini! ^_^ hehehe
Benar dapat apa? Bukan dalam wujud benda, tapi doa.
good luck!


Kamis, 02 Februari 2012

Rembulan Sedang Bulan Madu

Aku membalas tatapan rembulan yang sinis. Spektrum warnanya menyentuh korneaku yang buta akan gelap gulita. Irisku mengecil membagi sinarnya sama rata. Dingin. Ia bukanlah purnama yang bercahaya sempurna, hanyalah sederhana yang melengkung indah. Tatapan ku lepas, lalu kembali dalam kegelapan. Aku terduduk mendekap tubuh berselimutkan jemari, lutut menyatu bersama dadaku yang dipenuhi rasa abstrak. Sunyi.

Kelopak mataku perlahan mulai berat untuk disanggah, semakin sulit untuk merangkai tawa. Aku hanya tersenyum dalam basahnya tetes duka. Tidak, aku tak bersedih. Rintihan lendir kala aku menarik nafas adalah refleksi bahagia. Sekali lagi, ini bukan derita.

Aku mengangkat kepalaku lagi, "Ya, Tuhan. Apakah Kau mendengarku?" ujarku lirih.
newer posts older posts back home