Monolog: Kisah Putih Ombak Pilu Bukan Halangan Yang Tak Dianggap Tawamu Yang Terakhir

Selasa, 31 Desember 2013

Nyata-nya Dunia Maya

Selagi menoleh kebelakang, rasanya ada satu hal yang luput untuk diceritakan. Tentunya akan sangat disesalkan apabila hari tersebut gue lupakan begitu saja. Bagaimana tidak, pengalaman yang gue dapet pada hari tersebut benar-benar membuka mata gue bahwa kehidupan di dunia maya itu NYATA!

Yap. Berawal dari sebuah komunitas blogger bernama Kancut Keblenger, gue mendapatkan banyak sekali pembelajaran menarik di dalamnya. Mulai dari interaksi antar member yang intensif membahas mengenai seluk-beluk blogging, sampai pada hal yang bersifat “ehem”.

Ups! Bukan menjurus kepada hal yang kotor ya hanya karena nama komunitasnya terdengar rancu. Yang gue maksud, interaksi tersebut seakan tak terbatas oleh ruang dan waktu. Tak melulu membahas mengenai blog. Bahkan tak sedikit member yang saling menaruh hati. Hehe

Maka, tak heran di dalam komunitas yang terkenal punya segudang prestasi ini, para member mengenal istilah “Strong as team, solid as family!”

Kekompakan itu semakin terasa ketika gue untuk pertama kalinya ikut kopdar #1 Kancut Keblenger Regional Jogja. Memang, saat itu hanya ada 7 orang perjaka yang ikut. Hehe. Akan tetapi, semakin hari, semakin bertambah jumlah member yang hadir seiring digelarnya kopdar lanjutan. Hingga pada puncaknya, pada tanggal 22 Desember 2013, yang bertepatan pada Hari Ibu, di Puro Pakualaman Jogja, kami melakukan kopdar resmi untuk keempat kalinya. (Walaupun sebenarnya sudah belasan kali melakukan kopdar kecil-kecilan, hehe)
Kopdar #4 Kancut Keblenger Jogja

Rabu, 03 Juli 2013

Pernah Kembali


Dedaunan rindu meruntuh
Rerantingan pun merapuh
Aku disuatu waktu
Sempat hilang tak ditemu

Dahulu hijau melampau
Kini tampak kujarat bermekaran
Bulan menyabit dipanggut engkau
Semakin silih bertebaran

Perlahan
Demi perlahan

Pada akhirnya gugur menjadi semi
Membentuk kesatuan siklus alami
Bahwa ia yang cinta dan dicintai
Selalu pernah kembali

Minggu, 24 Juni 2012

Pujian Rindu

Aku pernah menelaah emosiku kala berselisih sendu. Tentang selaksa pujian yang berkubang dalam satu wadah merdu. Tentu saja ia indah, frasa renyah itu hanya tertuju pada satu individu. Saat indra pendengar menangkapnya, barangkali, kau akan menepuk dadamu seraya mengangkat dagu. Lalu, kau pun tersedak dalam senyummu yang menyeruak.

“Kau hebat sekali ... luar biasa ... fantastis ... mengagumkan!” –begitulah mereka. Menarik, bukan?

Sebongkah kalimat bertanda seru, makna dan maksud siapa yang tahu. Ya, aku ingin menyebutnya sedemikian. Ungkapan yang berasaskan emosi sesaat ini dapat menggetarkan hatimu. 

Sungguh ajaib!

Satu hal yang selalu hadir dalam benakku, apakah pujian itu terlalu indah? Maksudku, ia seperti jarum yang menusuk nadi, perlahan namun pasti, menimbulkan sensasi saat jarum berkumpul bak lilitan lidi. Apakah ia benar-benar seperti itu, atau interpretasiku keliru?
newer posts older posts back home