Monolog: Kisah Putih Ombak Pilu Bukan Halangan Yang Tak Dianggap Tawamu Yang Terakhir

Sabtu, 04 Februari 2012

Kau Seakan Memperkosa Diriku

Bayangku di antara senyum dua warna dari yang tercinta. Hidup pada dimensi yang sama dan mereka adalah hawa. Dua yang sama namun berbeda. Paradigma, itulah yang beraneka. Ya, salah satu dari mereka mempertimbangkan setiap lisan kata, mengalunkannya merdu dalam irama hingga aku terpaku dalam diam. Terkadang ia juga menarikku perlahan dari jurang kelam. Ia adalah ibuku. Seorang dengan rambut hitam sepanjang bahu, beriris kecoklatan dengan tinggi tubuh sedang. Ia indah bagiku.

Aku mencintainya, setara. Aku membagi kalbuku sama rata terhadap dilema. Diantara ibu dan dia. Bidadari, ya aku mungkin telah mendapatinya. Bukan, ia telah dalam dekapan. Wanita tanpa sayap yang berparadigma sebanding denganku, labil. Tanpa alasan mendasar aku juga merasakan kasihnya. Aksi reaksi yang saling setimpal membaluti cinta kami tanpa iba. Itulah yang kurasakan, kekasih. Aku menemukan kesamaan anomali jasad diantara mereka berdua, hanya kerut wajah yang tertanda. Sepertinya ia refleksi masa dimana ibuku muda. Mungkin.

Jumat, 03 Februari 2012

Kabisat! Coba tebak...

Suci. Hanyalah kesejatian sebuah tafsir nama. Dari seorang dewa, untuk dikenang masa. Ia yang memiliki kabisat tiap setengah windu. Kalender Gregorius juga menyerap kata tersebut. Berpuluh abad lalu mereka menyembahnya, konon mereka juga merayakan ritual upacara. Penyucian, begitu mereka mengatakannya.

Mereka juga mengucapkan ini tanpa sendu. Sesuatu yang memiliki romantisme yang adil bagi segelintir. Sekarang identik dengan cinta, sebuah coklat manis menawar manja. Kali ini aku menemukan dua hal berbeda dalam untaian kata.

"Ada dua?" tanya seseorang.

"Ya! Tebaklah!"

*****

Ada dua kata, coba kalian tebak teka-teki buatanku ini! ^_^ hehehe
Benar dapat apa? Bukan dalam wujud benda, tapi doa.
good luck!


Kamis, 02 Februari 2012

Rembulan Sedang Bulan Madu

Aku membalas tatapan rembulan yang sinis. Spektrum warnanya menyentuh korneaku yang buta akan gelap gulita. Irisku mengecil membagi sinarnya sama rata. Dingin. Ia bukanlah purnama yang bercahaya sempurna, hanyalah sederhana yang melengkung indah. Tatapan ku lepas, lalu kembali dalam kegelapan. Aku terduduk mendekap tubuh berselimutkan jemari, lutut menyatu bersama dadaku yang dipenuhi rasa abstrak. Sunyi.

Kelopak mataku perlahan mulai berat untuk disanggah, semakin sulit untuk merangkai tawa. Aku hanya tersenyum dalam basahnya tetes duka. Tidak, aku tak bersedih. Rintihan lendir kala aku menarik nafas adalah refleksi bahagia. Sekali lagi, ini bukan derita.

Aku mengangkat kepalaku lagi, "Ya, Tuhan. Apakah Kau mendengarku?" ujarku lirih.
newer posts older posts back home