Bayangku di antara senyum dua warna dari yang tercinta. Hidup pada dimensi yang sama dan mereka adalah hawa. Dua yang sama namun berbeda. Paradigma, itulah yang beraneka. Ya, salah satu dari mereka mempertimbangkan setiap lisan kata, mengalunkannya merdu dalam irama hingga aku terpaku dalam diam. Terkadang ia juga menarikku perlahan dari jurang kelam. Ia adalah ibuku. Seorang dengan rambut hitam sepanjang bahu, beriris kecoklatan dengan tinggi tubuh sedang. Ia indah bagiku.
Aku mencintainya, setara. Aku membagi kalbuku sama rata terhadap dilema. Diantara ibu dan dia. Bidadari, ya aku mungkin telah mendapatinya. Bukan, ia telah dalam dekapan. Wanita tanpa sayap yang berparadigma sebanding denganku, labil. Tanpa alasan mendasar aku juga merasakan kasihnya. Aksi reaksi yang saling setimpal membaluti cinta kami tanpa iba. Itulah yang kurasakan, kekasih. Aku menemukan kesamaan anomali jasad diantara mereka berdua, hanya kerut wajah yang tertanda. Sepertinya ia refleksi masa dimana ibuku muda. Mungkin.