Monolog: Kisah Putih Ombak Pilu Bukan Halangan Yang Tak Dianggap Tawamu Yang Terakhir

Minggu, 11 Maret 2012

Mentari Saksi Misteri

Aku menyeduh mentari tanpa kehangatan bidadari. Disini, aku laksana cinta tanpa kasih. Ragaku menyendiri dalam kegelapan pagi dan menerawang masa kala dua hati bersama menjemput cahaya surya. Ia , sang pewarna hari, kini tak lagi hadir dalam dekapanku. Hampa. Aku terbelenggu akan ungkapan bahwa cinta berawal pada segumpal tawa dan diakhiri dengan tangisan belaka. Tepat, segalanya terjadi padaku. Jiwaku seakan meronta-ronta dalam diam, tetes senduku terus mengalir perlahan menghujam tanah.

Kebencian terhadap dunia tercermin oleh tatap tajamku yang masih basah. Rasanya aku ingin sekali mencabut ribuan nisan, lalu mecampakkannya ke samudra. Namun percuma saja, walaupun aku melakukannya, dunia ini tetap saja tak seimbang. Semua rasaku telah musnah, begitupula dia. Bayang yang tersisa hanya menjadi pelengkap secangkir hangat kopiku saat ini.

Tak ada alasan yang membutuhkan pembenaran, semua ini adalah takdir. Tak ada apa, tak pula mengapa. Seumpama bermain dengan pisau runcing, kelak ia akan menyayat lirih tubuhmu, dan itu sangatlah perih – seperti yang kurasa kini. Andai saja aku dapat memilah-milah waktu untuk kujelajahi. Jikalau aku bisa menjalani segalanya dengan keistimewaan di hati. Mungkin saja aku dapat bahagia. Lagi – seperti masa lalu.


Aku beranjak dari kursi kayu berwarna coklat usang, “Waktu itu... seharusnya tak pernah terjadi,” ujarku berkacak pinggang.

Sembilan tahun lalu, sang malaikat penjemput nyawa tak dapat kutolak kehadirannya. Saat langkah pertamaku melewati pintu rumah, dinding putih berhiaskan cipratan penuh darah, di atas lantai tergenang merah yang menggoreskan kepedihan tak terhingga. Beberapa inci di dekatnya tergeletak seorang wanita yang tampak tak bernyawa. Raut wajahnya menyisakan gelisah, seakan ada misteri dibalik kelopak matanya yang tak tertutup itu. Bagian belakang kepalanya menyelinap keluar semacam daging kenyal berawarna merah pekat – mungkin saja otak pikirku. Teramat mengerikan, aku bahkan tak mampu menggambarkannya. Ialah istriku, sebuah realita yang meluluh-lantakkan harapan masa depanku.

Langkahku menyeret mendekati jasad tercinta, jemariku membantunya menutup mata ‘tuk selamanya. Tanpa senyum, tanpa salam perpisahan. Aku menyaksikan saat alam memisahkan kami tanpa toleransi. Ikrar janji yang dulu kami kumandangkan saat itu juga berakhir. Aku berteriak memecah sepi, lalu meninju dinding dengan segala luapan emosi. Aku masih mengingatnya.

“Sejak kita berpisah dan aku tenggelam gelisah, ku hanya ingin menghiasi biru ini dengan segala ungkapan rindu. Sungguh,” ungkapku sembari mengambil cangkir kopi yang mulai beku terpengaruh atmosfir hatiku.

“Aku memulai kehidupan dengan satu tangisan, apakah aku pantas mati dengan cara yang sama?” lanjutku menggerutu dalam hati.

Aku meneguk beberapa kali beriring angin yang menderu semakin kencang, seperti menanggapi perkataan batinku. Diantara hempasan itu aku merasakan melodi merdu menggetarkan gendang telingaku, aku mengenalnya. Frasa lembut milik sang bidadari yang telah menelantarkanku sendiri.

Janganlah bersedih
Peluklah hatiku dengan hatimu
Biarkan rinduku menjadi milikmu
Tak ada kau dan aku disini
Hanya ada kita, berdua

Aku terhenyak tanpa bahasa, batinku seakan tak percaya. Sontak cangkir yang masih berisikan kopi terhempas ke lantai.

BRAK!

Lenganku seketika bergetar dan lunglai. Pecahan beling berhamburan, membaur dengan lantai berkeramik putih yang aku pijak. Beberapa diantaranya mengoyak kulit kakiku, persis setajam pisau runcing yang aku katakan sebelumnya, namun tak perih. 

Aku berlari mengejar angin yang mengarah ke ufuk timur – tempat sang mentari bertengger gagah. Telapak kakiku terus mengucurkan darah segar dimana masih bersembunyi beling di balik kulitnya. Mati rasa, aku tak mempedulikannya. Langkahku terus meraih suara tersebut. Sayup-sayup itu sekejap hilang dan aku berhenti, tepat dihadapan mentari. “Haruskah aku tersenyum menyambut hari?” ujarku berselimutkan misteri.

*****

Kala cinta berawal dengan senyuman dan berakhir dengan tangisan, bukankah hidup itu kebalikannya? Jangan biarkan hidup ditutup dengan merana, karena hidup itu mempesona!–Basith K. Adji

(Mentari Saksi Misteri karya Basith K. Adji)
Dilarang menyebarluaskan cerpen ini tanpa izin penulis.

PS: Ini adalah cerpen "kompilasi bersambung" bersama Andaka Rizki Pramadya. Nanti akan ada lanjutan berbentuk cerpen di blognya, kami berdua berkolaborasi menggabungkan cerpen seolah-olah seperti cerbung. Silakan cek blognya dia juga. (disini) Hohoho :D

Bagikan Artikel di:

73 komentar:

  1. suka sama cerpennyaaaaaaa :D

    BalasHapus
  2. Kombinasi lagu + cerpen yang mantab. Like this.

    BalasHapus
  3. oke deh siap nulis kompilasi bersambung yang kedua XD

    BalasHapus
  4. bukankah kebahagiaan dan kesedihan itu satu paket? setiap ada kebahagiaan pasti akan ada kesedihan terselip dibaliknya, dan begitupula kesedihan, bersyukur atas nikmat kehidupan itu kunci utama 0:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu terlalu general puni, bukan masalah bahagia atau sedihnya yg jadi tujuan posting ini. :D Maksud utamanya: antara cinta dan kehidupan... Kalo cinta biasanya diawali dgn senyuman dan diakhiri oleh tangisan (perpisahan), sedangkan kehidupan diawali dgn tangisan (saat bayi) dan diakhiri senyuman (kala hidup kita berguna bagi sesama dan bermanfaat) :D

      Hapus
  5. tangisan dan senyuman selalu menghiasi hidup kita, mereka pasti selalu ada

    ditunggu cerpen berikutnya :D

    BalasHapus
  6. baca ini bikin gw manggut manggut.. ckck

    BalasHapus
    Balasan
    1. Manggut2 ini bukan lagu yg nge-beat bang XD

      Hapus
  7. nice cerpen...
    sealalu berkarya ya mbak...
    :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku cowok loh hahaha X_X

      Hapus
    2. muhahahaha dapet bahan buat bullyan berikutnya #plaaaak

      Hapus
    3. Hahaha kampret bang ujay XD

      Hapus
  8. "Ia, sang pewarna hari kini tak lagi hadir dalam dekapanku. hampa." dalem banget Sith...

    ini kyk2 nya beneran ini. hahaha
    btw, kamu dipanggil "mbak" noh...
    hihihihi.... Basith yg cantik ^^
    tetep aq ngefans sama humor-berirama mu :)
    bukan berarti yg lain ga bagus loh... ayo terus menulis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi ini fiksi kok mbak XD Hahahaha iya, aku dipanggil mbak, padahal keliatan di banner aku cowok tulen XD Biarlah, salah kaprah tak ada salahnya utk pertama kali :D Oke mbak, rencananya mau aku selang-seling cerita humor dan yg lebih serius :D

      Hapus
  9. kala cinta berawal dari senyuman dan berakhir dengan tangisan :'(

    BalasHapus
  10. suka suka cerpen nya..keren euy, weis basith udah jadi mbak mbak yah hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hohoho, mbah mbah kali mbak :p

      Hapus
  11. wahhh suka diksinya,ngalir banget...mantap

    BalasHapus
  12. waaah bagus :D
    gaya bahasanya itu loh.... ><

    BalasHapus
  13. Aku suka kata-katanya pas di akhir. Ngena banget bang:D

    BalasHapus
  14. cinta berawal dari senyuman dan berakhir dgn tangisan. kalo gitu utk apa kita hidup berpasanga2an dan dianugrahi rasa cinta kalo akhirnya kita cm ngerasain kesedihan bang ? :D

    tapi aku suka cerpen ini :D singkat, padat, jelas, isinya juga dapet :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tangisan hanyalah representasi perpisahan. Kita ksn pada akhirnya akan berpisah, disini aku menunjukkan perpisahan itu dgn kematian :) Karena inilah hidup :p Hidup dgn cinta jelas perlu, tapi jangan biarkan rasa perpisahan itu menjadi berlarut hingga kita menutup mata, disini aku juga bilang hidup itu diawali dgn tangisan, makanya jangan sampai berakhir dgn tangisan pula :p

      Hapus
    2. WOW aku merinding bacanya bang! haha
      iyaiya bener! bener bgt! setelah kesedihan dtg dgn membabibuta, jgn biarkan kesedihan itu datang untuk kedua kalinya. memotivasi banget bang xD

      Hapus
  15. Mbak , eh Bang :D
    sy anak baru,
    jempol buat cer-kom-bung nya dah :D
    ditunggu kelanjutannya ...

    bdw, beling nancap di telapak kaki trus dipake lari2 kaki nya ..beuhh...

    BalasHapus
  16. "Jangan biarkan hidup ditutup dengan merana karena hidup itu memesona" <----suka banget ama kalimat ini hihihi...

    ^____^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuhuuu~ baguslah kalau suka :D

      Hapus
  17. waaah.. karya yang eksotik nih,,.... memesona banget...

    BalasHapus
  18. jangan biarkan hidup ditutup merana karena hidup mempesona >> super sekali.. suka banget cerpen ini, merinding -___-

    BalasHapus
  19. ada tangisan ada pula senyuman.. .. semua saling berpasangan. . .. :)

    BalasHapus
  20. keren ceritanya mas. menjiwai. hehe salam kenal :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih yah ^_^ Salam kenal :D

      Hapus
  21. Suka cerpennya :) tapi mengapa ikrar suci harus berakhir jika salah seorang meninggal?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena itulah hidup, ada mati yang menghentikannya :)

      Hapus
  22. menggebu....saya suka nyawa dalam setiap katanya

    BalasHapus
  23. nice posting bang.. aku suka.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baguslah kalau suka, makasih yah :)

      Hapus
  24. tetap, kata-katanya juaraa...
    aku sukaa.. :)

    BalasHapus
  25. aaaaaaaaaaaaa nak bas, sering2 aja nulis kayak begini :D

    BalasHapus
  26. keren tulisannya,jadi ngencess

    BalasHapus
  27. hidup tidak merana melainkan mempesona?
    boleh banget tuh kata-katanya. . .
    keren bos ceritanye

    BalasHapus
  28. ha,,,,,ha,,,,,,ha,,,,,,, walau aqu suka sastra tapi kalau terlalu berat gini jadi berat mataku untuk baca kelanjutan ceritanya

    NB:aqu baru baca 2 paragraf doang

    BalasHapus

Komentar tidak melalui seleksi apapun. Jadi, ayo berkomentar! Tapi yang beretika yah. Terima kasih untuk tidak jadi Spammer. ^_^

newer posts older posts back home