Aku menyeduh mentari tanpa kehangatan bidadari. Disini, aku laksana cinta tanpa kasih. Ragaku menyendiri dalam kegelapan pagi dan menerawang masa kala dua hati bersama menjemput cahaya surya. Ia , sang pewarna hari, kini tak lagi hadir dalam dekapanku. Hampa. Aku terbelenggu akan ungkapan bahwa cinta berawal pada segumpal tawa dan diakhiri dengan tangisan belaka. Tepat, segalanya terjadi padaku. Jiwaku seakan meronta-ronta dalam diam, tetes senduku terus mengalir perlahan menghujam tanah.
Kebencian terhadap dunia tercermin oleh tatap tajamku yang masih basah. Rasanya aku ingin sekali mencabut ribuan nisan, lalu mecampakkannya ke samudra. Namun percuma saja, walaupun aku melakukannya, dunia ini tetap saja tak seimbang. Semua rasaku telah musnah, begitupula dia. Bayang yang tersisa hanya menjadi pelengkap secangkir hangat kopiku saat ini.
Tak ada alasan yang membutuhkan pembenaran, semua ini adalah takdir. Tak ada apa, tak pula mengapa. Seumpama bermain dengan pisau runcing, kelak ia akan menyayat lirih tubuhmu, dan itu sangatlah perih – seperti yang kurasa kini. Andai saja aku dapat memilah-milah waktu untuk kujelajahi. Jikalau aku bisa menjalani segalanya dengan keistimewaan di hati. Mungkin saja aku dapat bahagia. Lagi – seperti masa lalu.








